
Marienplatz
Tanggal 31 Jan 2009 merupakan perjalanan pertama kami ke kota München (baca: munhyen, dalam bahasa Inggris "Munich") dan juga pengalaman pertama kami naik ICE (Inter City Express) milik perusahaan kereta utama di Jerman "Deutsche Bahn". Perjalanan Heidelberg-München memakan waktu kurang lebih 3,5 jam, sekitar pukul 9 pagi kami sudah tiba di München Hbf (München Main Station) kemudian kamu langsung berjalan menyusuri Bayerstraße kemudian masuk ke Hermann Lingg Straße no 1 untuk menyimpan barang-barang bawaan kami. 
Neues Rathaus
München merupakan salah satu kota terbesar di Jerman, dan merupakan ibu kota negara bagian Bayern (atau Bavaria) yg terletak di Jerman tenggara. Kota München terkenal dengan festival yang dinamakan Oktoberfest (October Festival), adalah festival besar yang berlangsung pada bulan Oktober di suatu arena bernama Theresienwiese dan diadakan selama dua minggu. Bir menjadi pusat perhatian utama dalam festival ini.
Hofgarten
Hari itu kami naik U-Bahn (subway) dari Theresienwiese menuju Marienplatz. Marienplatz adalah pusat keramaian tertua di kota tersebut, walking street dengan bangunan-bangunan kuno khas Eropa dan berbagai macam toko bermerek di sebelah kiri dan kanannya, kemudian sampailah kami di Neues Rathaus (New Town Hall), balai kota dengan bangunan bergaya Gothic. Dari Marienplatz kami berjalan terus menuju sebuah pasar bernama Viktualienmarkt, merupakan daily food market. Selain banyaknya jenis makanan yang ada, suasana di pasar tersebut pun sangat mendukung sehingga mendorong kami untuk membeli beberapa jenis makanan yaitu keju, daging dan roti. 
Penjual keju di Viktualienmarkt
Sesudah puas menjelajahi pasar, kami kembali ke stasiun Marienplatz dan melanjutkan perjalanan menuju Odeonsplatz, tepat di sebelah taman bernama Hofgarten. Taman ini terletak di depan Munich Residenz, yang dulu merupakan tempat tinggal para penguasa Bavaria. Setelah menikmati indahnya Hofgarten, kami kembali ke stasiun Odeonplatz dan melanjutkan perjalanan ke Olympiazentrum. Di sanalah letak Bayerische Motoren Wagen Welt (BMW World). BMW Welt adalah gabungan dari pabrik pusat,museum dan dealer yang dimiliki oleh perusahaan yang mobil dan sepeda motor BMW. Sebagai turis, kami hanya bisa mengunjungi museum dan dealer BMW, dan kami sangat menikmati setiap kendaraan yang ada di kedua tempat tersebut (walau ga mampu beli, bisa liat aja udah seneng =). 
Weißwurst
Sepulang dari sana, kami sempat masuk ke arena Olympiapark yang dibangun untuk Olimpiade Musim Panas tahun 1972. Karena hari sudah gelap, ditambah perut kami yang mulai bernyanyi dan udara yang semakin dingin, tanpa mengelilingi semua arena, masuklah kami ke stasiun Olympiazentrum dan menuju Theresienwiese untuk beristirahat. Sebelumnya, kami berkesempatan mencoba makanan khas Bavaria di sebuah restoran kecil di dekat hotel, yaitu Weißwurst mit süßen Senf und Pretzel (White Sausage with Sweet Mustard and Pretzel).
BMW Welt
Kami belum sempat mengunjungi kota ini di awal bulan Oktober untuk menyaksikan Oktoberfest. Kami akan pergi kembali ke sana untuk "Pesta Bir Internasional" itu!
Saturday, August 28, 2010
Naik Subway Keliling München
Labels: Europe Series
Posted by Veronica Vania at 6:24 AM 0 comments
Saturday, July 24, 2010
Hong Kong Culinary

Hong Kong Night View
Hong Kong menjadi tempat tujuan dua perjalanan saya di saat-saat menegangkan menjelang sidang dan juga di awal kebahagiaan sesudah sidang kelulusan studi S2 saya. Kedua perjalanan tersebut saya tempuh dengan kereta selama 24 jam dari Beijing menuju Hong Kong, perjalanan pertama yaitu tanggal 4-10 Mei 2010 dan perjalanan keduanya adalah 15-19 Juni 2010.
Zha Liang
Hong Kong yang memiliki julukan "Surga Belanja" merupakan Daerah Administratif Istimewa di bawah pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Pariwisata menjadi salah satu sumber penghasilan utama di daerah tersebut.
Turnip Cake
Dan "bidang kuliner" menjadi salah satu bagian terpenting dari pariwisatanya. Berikut adalah 12 tempat yang saya kunjungi di saat berkunjung ke Hong Kong, menurut saya 12 tempat ini sangat layak untuk dicoba, semoga informasi singkat ini bisa membantu Anda yang senang melancong dan berkuliner
1. Tao Heung (稻香超級漁港)
Jenis : Dimsum
Alamat : Kowloon, Tsim Sha Tsui,Guang Dong Street, Harbour City 3rd Floor.
(九龍尖 沙咀廣東道海港城3樓)
Double Stew Milk
Rekomendasi :
Char Siew Bao (叉烧包,cha1shao1bao1)
Zha Liang (炸两, pinyin: zha4liang3)
Hakaw (虾饺,pinyin: xia1jiao3)
Turnip Cake (萝卜糕,pinyin: luo2bogao1)
Combination Hotpot
2. Yee Shun Milk Company (義順牛奶公司)
Jenis : Snack
Alamat : Kowloon, Yau Ma Tei, Nathan Road #513.
(九龍油麻地弥敦道513号)
Rekomendasi :
Double Stew Milk (雙皮燉奶, pinyin: shuang1pi2 dun4nai3)
Scramble Egg & Toast
3. Australia Dairy Company (澳洲牛奶公司)
Jenis : Snack
Alamat : Kowloon, Jordan, Parkes Street #47-49.
(九龍佐敦白加士街47-49号)
Rekomendasi :
Scramble egg and toast (炒蛋多士,pinyin: chao3dan4 duo1shi4)
Milk Tea (奶茶,pinyin: nai3cha2)
Egg White Milk Pudding (蛋白燉鮮奶, pinyin: dan4bai2 dun4 xian1nai3)
Caption here
4. Modern Toilet Restaurant (便所主题餐厅)
Jenis : Asian
Alamat : Kowloon, Mongkok, Portland Street #240-244 Mongkok Mandarin 3F.
(九龍旺角砵兰街240-244号旺角文华3楼)
Rekomendasi :
Modern Toilet Combination Hot Pot (日式招牌什锦锅,pinyin: ri4shi4
zhao1pai2 shi2jin3 guo1)
Hainan Chicken Rice
5. Pak Don Hainan Chicken Rice (栢檔去骨海南雞飯)
Jenis : Nasi Hainan
Alamat : Kowloon, Jordan, Parkes Street #85.
(九龍佐敦白加士街85号)
Rekomendasi :
Hainan Chicken Rice (海南鸡饭, pinyin: hai3nan2 ji1fan4)
Black Sesame Soup
6. Kau Kee (九记牛腩)
Jenis : Mie
Alamat : Hong Kong Island, Central, Gough Street #21.
(香港岛上环歌赋街21号)
Rekomendasi :
Beef Noodle (牛腩米粉, pinyin: niu2nan2 mi3fen3)
Beef Curry Noodle (牛腩咖喱米粉, pinyin: niu2nan2 ga1li4 mi3fen3)
Milk Tea (奶茶,pinyin: nai3cha2)
Baked Pork Rib Rice
7. Hang Fa Lau (杏花楼)
Jenis : Hong Kong
Alamat : Hong Kong Island, Central, Cochrane Street #32.
(香港岛中环阁麟街32号)
Rekomendasi :
Black Sesame Soup (黑芝麻糊,pinyin: hei1 zhi1ma2 hu2)
Wonton Noodle
8. Mido Cafe (美都餐室)
Jenis : Hong Kong
Alamat : Kowloon, Yau Ma Tei, Temple Street #63.
(九龍油麻地庙街63号)
Rekomendasi :
Baked Pork Rib Rice (焗排骨饭, pinyin: ju2 pai2gu3 fan4)
Pot Rice
9. Tsim Chai Kee Noodle (沾仔记)
Jenis : Mie
Alamat : Hong Kong Island, Central, Wellington Street #98.
(香港岛中环威灵顿街98号)
Rekomendasi :
Wonton Noodle (云吞面, pinyin: yun2tun1mian4)
Oyster Cake
10.Hing Kee Rice Pot (兴记煲仔饭)
Jenis : Nasi
Alamat : Kowloon, Yau Ma Tei, Temple Street #17-21.
(九龍油麻地庙街17-21号)
Rekomendasi :
Pork Rib Rice Pot (排骨煲仔饭,pinyin: pai2gu3 bao1zai3fan4)
Oyster Cake (蚝饼,pinyin: hao2bing3)
Milk Tea & Crisp Bun
11.Tsui Wah Restaurant (翠华餐厅)
Jenis : Hongkong
Alamat : Hongkong Island, Central, Wellington Street #15-19.
(香港岛中环威灵顿街15-19号)
Rekomendasi :
Milk Tea (奶茶,pinyin: nai3cha2)
Crisp Bun with Butter and Milk (奶油大猪仔包,pinyin: nai3you2
da4 zhu1zai2 bao1)
Bubur
12. Ocean Empire Food Shop (海皇粥店)
Jenis : Bubur
Alamat : Kowloon, Yau Ma Tei, Nathan Road #479A.
(九龍油麻地弥敦道479A号)
Rekomendasi :
bubur (粥, pinyin: zhou1)
Zha Liang (炸两, pinyin: zha4liang3)
Sebenarnya masih banyak restoran khas dan kedai makanan di Hong Kong yang patut direkomendasikan kepada Anda, tetapi karena keterbatasan waktu, saya sementara hanya menyajikan 12 restoran dan rumah makan di atas.
Nikmatilah hidup selagi Anda bisa!
P.S Thanks to my good friend E.P for joining me
Labels: Asia Series
Posted by Veronica Vania at 7:11 AM 0 comments
Saturday, June 5, 2010
Mengunjungi Rumah Dr. Benz di Ladenburg
Stasiun Kereta Ladenburg
Hari Minggu tanggal 10 Januari 2010, salju menyelimuti wilayah Baden-Württemberg,Jerman. Beberapa hari sebelumnya saya dan Muliadi memang sudah berencana untuk pergi ke satu kota kuno bernama Ladenburg pada hari itu. Kota Ladenburg terletak kurang lebih 10 km di sebelah timur kota Mannheim, dan 10 km di sebelah barat laut kota Heidelberg. Kami naik kereta dari Heidelberg menuju Ladenburg dan hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit.
Wasserturm
Sesampainya di sana kami berjalan di tepi Sungai Neckar (kota Ladenburg, Heidelberg dan Mannheim merupakan beberapa kota yang dilewati Sungai Neckar), tak lama kemudian terlihatlah sebuah menara air besar (Wasserturm) yang berfungsi sebagai tempat penampungan air bagi penduduk kota itu di zaman kuno.
Automuseum Dr. Benz
Kami berjalan terus menuju Altdstadt (old town) untuk makan siang, karena salju terus turun, maka hari itu kami hampir tidak melihat orang-orang di luaran. Banyak cafe yang di pintunya tergantung papan kecil bertuliskan “geschlossen”(yang berarti “tutup“), kami sempat panik karena kami dalam kondisi lapar.
Benz Patent Motorwagen
Tapi untungnya ada sebuah restoran Chinese Food bernama Peking City (hahaha) yang di pintunya tertulis “offen” (berarti “buka”), tanpa ragu lagi kami langsung masuk karena udara sangat dingin. Begitu masuk, kami tetap agak ragu2 karena restoran tersebut agak gelap dan tidak ada seorang tamu pun selain kami. Tapi seorang wanita Hangzhou, pemilik restoran tersebut mengatakan bahwa di musim dingin, bisnis restorannya kurang berjalan.
Kediaman Dr. Benz
Sehabis mengisi perut, kami langsung berjalan kaki menuju Ilvesheimer Straße 26, tepatnya menuju Automuseum Dr. Carl Benz, sebuah museum yang dibangun untuk menghormati Dr. Carl Friedrich Benz, pencipta mobil (berbahan bakar bensin) pertama di dunia. Di dekat pintu masuk museum, dipampang mobil pertamanya “Benz Patent Motorwagen” yang dibuat pada tahun 1885 dan diberi hak paten pada tahun 1886 oleh pemerintah Jerman.
Garasi mobil pertama dunia
Museum yang tidak terlalu besar itu diisi juga dengan mobil-mobil antik karyanya. Dr. Benz juga dikenal sebagai pendiri perusahaan mobil Mercedez-Benz (sebelumnya bernama Daimler-Benz) yang merupakan perusahaan mobil tertua di dunia.
St Gallus Kirche
Kemudian kami berjalan kembali ke arah timur dan menemukan kediaman pribadi Dr. Benz, beliau menghabiskan masa tuanya di kota Ladenburg sampai akhir hayatnya tahun 1929. Di seberang rumah tersebut ada sebuah taman di mana garasi mobil pertama di dunia miliknya berada. Sebelum meninggalkan Ladenburg, kami mengunjungi sebuah gereja bernama St. Gallus Kirche di daerah Altstadt dan tak lupa menghangatkan badan dengan segelas Glühwein (Hot Wine ) dan sepiring torte (cake) di sebuah cafe di seberang gereja.
Labels: Europe Series
Posted by Veronica Vania at 1:58 AM 0 comments
Monday, May 3, 2010
Grande Île, Wonderful Strasbourg
Place Kléber
Hari raya “Tiga Orang Majus dari Timur“ (Jerman : Heilige Drei Könige) setiap tanggal 6 Januari merupakan hari libur nasional di Jerman. Hari itu, kami berkesempatan pergi mengunjungi satu kota di Perancis timur, Strasbourg (Jerman : Straßburg). Kota Strasbourg yang terletak di dekat perbatasan Perancis-Jerman itu, dikenal dengan sebutan Grande Île (Grand Island) dan sudah ditetapkan sebagai World Heritage oleh UNESCO sejak tahun 1988. Kami dari Heidelberg naik kereta pukul 6 pagi menuju Karlsruhe. Kemudian pukul 7.30 melanjutkan perjalanan dari Karlsruhe langsung menuju Strasbourg. Sampai di Strasbourg kira-kita pukul 10 pagi, cuaca agak mendung dan dingin karena memang hari itu turun sedikit salju.
Le Petit France
Dari stasiun Gare de Strasbourg, kami langsung menuju ke Place Kléber (diambil dari nama Jean-Baptiste Kléber, seorang Jenderal tentara Perancis selama perang Revolusi) yang merupakan lapangan pusat kota Strasbourg. Saat kami tiba di sana, masih ada pohon Natal dan hiasan-hiasannya yang begitu indah, membuat kami tetap merasakan suasana Natal walaupun sudah lewat 3 minggu. Dari Place Kléber kamu berjalan ke arah timur dan sampailah di Strasbourg Catedral (Catedral of Our Lady of Strasbourg), bangunan gereja Katolik Roma nan megah bergaya gothic dan berwarna cokelat kemerahan. Sayangnya, saat kami masuk ke dalamnya, interior ruangan gereja sedang dalam proses renovasi, sehingga agak kurang baik untuk diabadikan.
Lift Kapal
Salju tipis masih tetap turun, tapi semangat petualangan kami tetap berkobar. Dari Catedral, kami berjalan lagi menuju Sungai Ill yang merupakan anak dari sungai Rhine (sungai terpanjang di Eropa). Kami membeli 2 lembar tiket boat tour dan menyusuri kanal-kanal Sungai Ill selama kurang lebih 1 jam. Hal yang paling berkesan bagi kami adalah saat kami menyaksikan dan merasakan uniiknya “lift kapal”. Lift kapal merupakan sebuah alat atau mesin yang digunakan untuk memindahkan kapal di sungai-sungai atau kanal-kanal yang memiliki perbedaan ketinggian air. Selama menyusuri sungai, kami melewati area Le Petit France (Little France) di mana banyak berdiri bangunan-bangunan kayu berwarna-warni yang sangat khas.
La Cure Gourmande
Setelah boat tour selesai, kami kembali ke daerah Catedral untuk membeli souvenir, karena di sana banyak toko souvenir yang menjual barang-barang kerajinan dengan harga khusus. Kemudian kami mengunjungi sebuah toko cookies bernama La Cure Gourmande yang terletak di sebuah jalan di seberang Catedral. Tokonya menarik, cookies-nya beraneka-ragam dan rasanya enak, bungkusnya pun menarik. Jika Anda adalah seorang pencinta makanan manis, toko ini sangat patut untuk dikunjungi.
Red wine tenderloin
Setelah selesai berbelanja, kami menuju ke sebuah restoran di jalan Rue des Tonneliers (tidak ingat nama restorannya, kami hanya ingat di mana letaknya) untuk makan siang. White wine Pinot Blanc sangat menghibur kami setelah seharian berada di tengah udara yang dingin, satu porsi “sirloin in cream sauce” dan “red wine tenderloin” pun ikut serta mengisi perut kami. Terima kasih Tuhan!
Strasbourg mini cakes
Setelah selesai makan siang, kami berjalan ke arah stasiun dan berkeliling di area pusat perbelanjaan kota Strasbourg dan menemukan beberapa toko kue yang menjual berbagai macam mini-cake yang sangat lucu dan unik. Kami mencicipi beberapa jenis cake, membeli sebuah baguette dan dua buah croissant sebelum akhirnya kembali ke Heidelberg.
Strasbourg, kota yang sangat indah, patut dikunjungi ulang pada musim panas. =)
Labels: Europe Series
Posted by Veronica Vania at 7:57 AM 0 comments
Thursday, April 8, 2010
Neuschwanstein, Kastil Yang Tak Pernah Selesai
Neuschwanstein Schloss
Setelah puas seharian bermain di Zugspitze, sore harinya kami kembali ke Garmisch Partenkirchen. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami mampir di sebuah cafe dekat stasiun kereta untuk menikmati hangatnya espresso dan harumnya crepes bertaburkan gula tepung dan kayu manis. Kemudian, kami langsung menuju halte dan menaiki bus jalur 9606 menuju Hohenschwangau, sebuah kota kecil di Bavaria, Jerman.
Layanan kereta kuda ke dua castle
Perjalanan ke tempat tujuan memakan waktu sekitar 2,5 jam, melewati hutan dan jalan yang berliku-liku, kami berdua sempat merasa pening dan akhirnya bergegas menempati tempat duduk di bagian depan bus. Di tengah-tengah perjalanan, kami melihat jelas seekor anak rusa berlari karena ingin melintasi jalan, bus kami pun sedang berjalan agak kencang. Dan malangnya nasib si anak rusa harus berakhir di roda depan bus kami. Saya pun spontan berteriak karena tabrakan tersebut cukup menimbulkan suara yang keras (saya rasa karena badan bus menghantam tanduk rusa).
Hohenschwangau Schloss
Supir bus pun tidak berhenti setelah kejadian itu, karena kami tahu, jalan di daerah tersebut agak sempit dan jika berhenti akan menggangu kenyamanan pengendara lain. Tetapi ada satu hal yang membuat saya sangat terharu, beberapa detik setelah tabrakan tersebut terjadi, Pak sopir langsung meraih telepon genggamnya. Ia langsung menghubungi pihak yang berwajib, mengatakan bahwa ia telah menabrak seekor rusa kecil dan meminta tolong mereka untuk melihat keadaan di tempat kejadian (bila bangkai rusa masih di sana, maka akan menggangu keamanan dan ketertiban lalu lintas). Satu yang saya dapat dari kejadian itu, kejujuran dan kepedulian sangat dibutuhkan terutama dalam pekerjaan. Saat itu saya spontan pula berkata “Jujur sekali orang ini!”, dan kemudian Muliadi pun spontan menjawab “Memang orang Jerman itu jujur-jujur”, “Pantas negara ini bisa maju” kata saya kemudian dalam hati.
Neuschwanstein Schloss
Setelah beberapa lama kemudian, sampailah kami di Hohenschwangau tepatnya kami berhenti di sebuah halte bus bernama Hohenschwangau Neuschwanstein Castle. Setelah turun dari bus, hanya ada satu kata yang terucap “Wow!”, istana “Cinderella” itu ada di depan mata kami!! Dan memang hostel “Romantik Pension Albrecht” tempat kami tinggal terletak di bawah istana tersebut. Kami langsung ke hostel untuk check in dan mandi. Selesainya kami kembali keluar hostel untuk makan malam. Tapi, daerah tersebut agak terpencil dari kota, lagipula daerah itu sudah mulai terselimuti kabut (jujur saja, saya agak takut melihat keadaan itu, seperti di film-film horror saja). Kami pun terus berjalan menjauhi hostel, dan tetap tidak menemukan café atau restoran yang yang terbuka pintunya. Dan akhirnya kami mengurungkan niat untuk makan malam dan kembali ke hostel untuk beristirahat.
Danau Alpsee
Keesokan harinya setelah check out dan menyantap sarapan ala Jerman (“Jerman banget!”kata Muliadi), kami langsung berjalan menuju ticket centre dan membeli 2 lembar Hohenschwangau Schloss ticket dan 2 lembar Neuschwanstein Schloss Ticket. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Hohenschwangau Schloss (Castle), istana berwarna kuning keemasan yang berdiri di atas bukit. Istana tersebut dibangun oleh Raja Maximillian II, beliau tinggal bersama sang istri Marie Friederike dan dua putranya King Ludwig II dan King Otto I. Kami mengelilingi seluruh ruangan di dalam istana dari ruang utama, kamar tidur, ruang kerja sampai dapur, menurut seorang tour guide, benda-benda yang ada di dalam istana pun masih asli.
Muliadi dengan topi khas Bavaria
Tempat berikutnya yang ditunggu-tunggu adalah Neuschwanstein Schloss (atau dikenal dengan nama New Swan Stone Castle). Dari Hohenschwangau Schloss kami naik kereta kuda menuju Neuschwanstein Schloss, rasanya sungguh seperti di dalam cerita dongeng. Konon menurut cerita, bentuk Sleeping Beauty Castle yang sekarang berdiri di setiap Disneyland di dunia terinspirasi dari Neuschwanstein Schloss, dan saya yakin pada saat Anda melihat Neuschwanstein, Anda akan percaya bahwa itulah induk dari Sleeping Beauty Castle. Neuschwanstein Schloss dibangun oleh Raja Ludwig II pada abad ke-19, dan pembangunan istana ini tidak pernah selesai karena King Ludwig II meninggal sebelom istana itu dibangun secara sempurna. Beliau naik tahta pada usia 18 th (1864) setelah kematian ayahnya, ia dikenal sebagai raja yang religious dan bijak. Tetapi pada tahun 1886 beliau dinyatakan mengalami gangguan mental dan beberapa hari setelah itu, ia ditemukan tewas di tepi sebuah danau, dan kematiannya sampai saat ini masih merupakan sebuah misteri. Kami mengelilingi seluruh ruangan yang ada di dalam istana Neuschwanstein, istana ini memang lebih megah dan lebih luas daripada Hohenschwangau Schloss. Bangunan ini pun tercatat sebagai bangunan yang paling sering diabadikan dalam bentuk foto. Sayangnya, kami tidak punya cukup waktu naik ke atas gunung untuk memotret castle secara keseluruhan, sebagai gantinya, kami membeli sebuah buku bergambar dan beberapa lembar kartu pos yang memang bisa menghibur kami dan membuat kami lebih kenal siapa sebenarnya King Ludwig II dan istana megahnya itu.
Fussen Old Town
Sore harinya, kami bermain2 di atas Danau Alpsee yang membeku, yang terletak di antara kedua istana. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju kota Fussen (Fuss : kaki) dan berjalan mengelilingi Altstadt (old town) kota tersebut sebelum kembali ke Heidelberg.
Labels: Europe Series
Posted by Veronica Vania at 1:18 AM 0 comments
Friday, March 12, 2010
Satu Hari Menginjak Alpen
Zugspitze
Pegunungan Alpen merupakan rangkaian pegunungan terkenal di Eropa terbentang dari timur di Austria dan Slovenia, melewati Swiss, Jerman, Liechtenstein dan Italia, dan kemudian berakhir di Perancis di sebelah barat, puncak tertingginya adalah Gunung Mont Blanc (4807 meter) di terletak di perbatasan Perancis dan Italia. Tercatat ada 301 buah gunung di rangkaian tersebut.
Zugspitzebahn
Ini adalah pengalaman pertama kami menginjakan kaki di Pegunungan Alpen, tepatnya puncak tertinggi Alpen urutan ke-225 di Jerman yang diberi nama Zugspitze atau disebut juga Top of Germany, setinggi 2962 meter di atas permukaan laut dan berbatasan dengan Austria. Zugspitze juga merupakan tempat tujuan para pecinta ski dan snowboarding terpopuler di Jerman. Tanggal 23 Januari 2010 pukul 00.23 saya dan Muliadi dengan segala perangkat “perang dingin” (seperti jaket tebal, sepatu boot salju anti-licin, kaus kaki dua lapis, sarung tangan anti-angin, topi bulu) menaiki kereta api dari Heidelberg menuju sebuah kota wisata bernama Garmisch-Partenkirchen di negara bagian Bayern. Tepat pukul 8 pagi kami tiba di sana, dan langsung berjalan kaki menuju stasiun kereta ajaib bernama Zugspitzbahn. Ajaib? Ya, kereta tersebut bisa mendaki gunung, dan memang dirancang dengan cara kerjanya yang unik. Ratusan orang, wanita pria tua dan muda dengan pakaian dan perangkat ski lengkap pun telah berkumpul di tempat itu, antri untuk membeli tiket kereta. Warna-warna cerah pakaian mereka pun membangkitkan saya (yang sedang mengantuk) untuk berpetualang di “atas“ sana.
2962 meters high
Kereta melaju, mendaki, dan hanya satu kalimat yang bisa saya ucapkan terus menerus, “Sungguh luar biasanya Sang Pelukis alam semesta ini!”, salju putih bersih menyelimuti pegunungan, sang surya pun tak lupa membagikan kehangatannya. Kira-kira satu jam kemudian kami tiba di ketinggian 2600 meter, kami menikmati indahnya alam sambil melihat orang-orang meliuk-liuk di atas salju. Karena kami tidak bisa bermain ski dan memang tidak punya peralatan ski, kami hanya mencoba menginjakan kaki di atas salju empuk yang mencoba mengubur kaki kami sampai lutut. Dan takkan pernah terlupakan pengalaman kami berbaring di atas salju Alpen sambil menikmati samudera angkasa.
Pegunungan berlapis-lapis
Setelahnya, kami langsung menaiki kereta gantung yang mampu membawa 100 orang menuju ketinggian 2962 meter. Setibanya, saya mulai merasakan apa yang dinamakan “mountain sickness” dalam bahasa Inggris. Awalnya kami mulai merasa pusing, cepatnya denyut jantung, apalagi sehabis menaiki tangga-tangga di dalam gedung, tapi setelah beberapa menit rasa tersebut akan hilang dengan sendirinya, karena kami lupa setelah melihat uniknya pegunungan Alpen yang terlihat membentang dan berlapis-lapis dari puncak Zugspitze. Dari atas sana, kami bisa menyaksikan empat negara sekaligus, yaitu Jerman, Austria, Swiss dan Italia, luar biasa bukan? Hari itu pun menjadi pengalaman pertama kami makan siang di tempat setinggi 2962 meter. Uniknya di depan rumah makan tempat kami makan tersebut, ada sebuah papan bertuliskan “Deutschlands höchster Biergarten” yang berarti The highest Beer Garden in Germany.
Danau Eibsee
Sehabis makan siang kami kembali naik kereta gantung untuk turun ke perhentian Danau Eibsee. Danau yang juga tak kalah indahnya dengan pemandangan di “atas” tadi, danau yang membeku dan diolesi salju nan murni, berlatarbelakangkan gunung berpuncak putih, di bawah birunya langit. Itulah pengalaman kami satu hari di atas Alpen. Kami pun kembali ke Garmisch-Partenkirchen dengan si kereta ajaib kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus ke tujuan berikut, Hohenschwangau.
Labels: Europe Series
Posted by Veronica Vania at 9:59 AM 0 comments
Sunday, February 7, 2010
What is your choice?
Backpackers
Saya lahir dan dibesarkan di Indonesia (tepatnya kota Bandung), setelah lulus SMA saya memulai kuliah di kota Beijing, Tiongkok. Dan dari sana saya mulai menyukai apa yang disebut dengan "melancong" atau "bertamasya" atau "travelling". Selama hampir 7 tahun hidup di Tiongkok, saya selalu memanfaatkan liburan dengan bepergian ke luar kota. Sampai saat ini, saya sudah mengunjungi lebih dari 30 kota di Tiongkok. Saya pun sempat berkunjung ke Jepang, Korea dan Eropa dalam liburan-liburan yang panjang seperti liburan musim dingin dan musim panas.
Segala hal di dunia ini pasti ada nilai positif dan negatifnya, ada bagian yang enak dan yang tidak enak. Maka dalam artikel kali ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang sisi positif dan negatif bidang pariwisata Indonesia, Cina, Jepang, Korea maupun Jerman (mewakili Eropa).
Uluwatu, Bali
Indonesia
Transport : Kurang praktis. Karena di dalam kota tidak tersedia MRT yang bisa mengantar orang-orang ke suatu tujuan secara cepat tanpa diganggu kemacetan lalu lintas.
Safety : Relatif kurang. Terutama di dalam kendaraan umum dan di jalanan.
Cleanliness : Cukup. Kebersihan di rumah makan dan hotel-hotel kecil di kota-kota besar di Indonesia pada umumnya cukup baik, hanya saja di daerah-daerah tertentu di perkotaan kurang aman.
Hotels : Cukup nyaman. Tetapi ada baiknya menghindari hotel tanpa 'bintang'.
Culinary : Sangat bervariasi. Indonesia adalah surga kuliner, Anda bisa membuktikannya sendiri.
Friendliness : Baik.
Cost (overall): Terjangkau.
Forbidden City Beijing
Cina
Transport : Cukup praktis. Tersedia kereta api dari kota-kota besar dan kecil. Bila bepergian ke desa atau daerah yang masih asli, biasanya tersedia bus-bus umum atau taksi.
Safety : Kurang. Terutama dalam berbelanja dan bertransportasi. Pintar-pintarlah menawar harga barang, dan hindari naik taksi 'gelap'.
Cleanliness : Kurang. Toilet umum di kota-kota di Cina terutama di kota kecil masih sangat primitif. Siapkan selalu tissue berparfum selama bepergian di Cina.
Hotels : Kurang nyaman. Bila Anda punya uang yang cukup, ada baiknya menghindari hotel tanpa 'bintang'.
Culinary : Bervariasi. Pilihlah restaurant pelayan-pelayannya berseragam.
Friendliness : Kurang. Jadilah orang yang cuek selama berada di Cina.
Cost (overall): Terjangkau.
Osaka Castle
Jepang (Tokyo, Kyoto, Hiroshima dan Osaka)
Transport : Praktis. Jangan khawatir untuk bepergian di Jepang. MRT di kota-kota besar, bus umum dan trem semuanya tersedia dengan rapi.
Safety : Baik.
Cleanliness : Sangat baik. Anda tidak perlu khawatir akan kebersihan di negara Jepang, baik makanan maupun tempat-tempat umumnya.
Hotels : Sangat nyaman.
Culinary : Sangat bervariasi. Jepang termasuk negara yang berbudaya "makanan" yang unik, umumnya rasanya pun cocok dengan selera orang Indonesia. Setiap kota di Jepang mempunyai makanan khas sendiri-sendiri dan mempunyai budaya makanan unik yang bisa dilihat dari proses pembuatan makanannya. Mungkin ini juga yang membuat harga makanan di Jepang sangatlah mahal.
Friendliness : Sangat baik. Orang-orang Jepang termasuk orang-orang yang sangat memperhatikan sopan santun, jadi ada baiknya Anda mempelajari budaya Jepang sebelum pergi ke sana. Makanlah ramen dengan bersuara keras dan si penjual akan bersenang hati.
Cost (overall): Kurang terjangkau
Korean Traditional Cloth
Korea (Seoul)
Transport : Praktis. Di dalam kota tersedia berbagai jalur MRT dan bus umum yang menjangkau semua tempat.
Safety : Baik.
Cleanliness : Baik.
Hotels : Nyaman. Backpackers hotel walau kecil tapi ada rasa homey.
Culinary : Cukup bervariasi. Tetapi makanan korea kebanyakan rasanya pedas, bumbu masakan rata-rata berwarna merah.
Friendliness : Baik.
Cost (overall): Cukup terjangkau.
Sebuah gereja di Hamburg, Jerman
Jerman (dan beberapa negara di Eropa)
Transport : Sangat praktis. Di Jerman orang-orang sering bepergian dengan menggunakan alat transportasi kereta api. Sistem perkereta-apian di Jerman sudah sangat maju, jalur-jalurnya terjangkau ke seluruh kota-kota besar sampai ke desa-desa. Jadwal kereta api sangat tepat waktu dan praktis. Di dalam kota pun tersedia bus-bus umum atau trem yang menjangkau hampir seluruh tempat.
Safety: Baik. Tingkat keamanan di Jerman termasuk dalam kategori 'baik'. Hanya saja di kota-kota besar seperti Berlin, Munich, Stuttgart sedikit kurang aman, tetapi pada dasarnya baik.
Cleanliness : Sangat baik.
Hotels : Nyaman. Di jerman banyak sekali hotel-hotel untuk backpackers, meskipun harganya cukup murah, tetapi kondisi hotel-hotel tersebut bisa dibilang nyaman.
Culinary : Kurang bervariasi. Makanan di Jerman tidaklah jauh dari sosis, kentang goreng, roti, salad dan steak.
Friendliness : Baik
Cost(overall): Kurang terjangkau
Labels: Random Series
Posted by Veronica Vania at 1:56 PM 0 comments
