Neuschwanstein Schloss
Setelah puas seharian bermain di Zugspitze, sore harinya kami kembali ke Garmisch Partenkirchen. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami mampir di sebuah cafe dekat stasiun kereta untuk menikmati hangatnya espresso dan harumnya crepes bertaburkan gula tepung dan kayu manis. Kemudian, kami langsung menuju halte dan menaiki bus jalur 9606 menuju Hohenschwangau, sebuah kota kecil di Bavaria, Jerman.
Layanan kereta kuda ke dua castle
Perjalanan ke tempat tujuan memakan waktu sekitar 2,5 jam, melewati hutan dan jalan yang berliku-liku, kami berdua sempat merasa pening dan akhirnya bergegas menempati tempat duduk di bagian depan bus. Di tengah-tengah perjalanan, kami melihat jelas seekor anak rusa berlari karena ingin melintasi jalan, bus kami pun sedang berjalan agak kencang. Dan malangnya nasib si anak rusa harus berakhir di roda depan bus kami. Saya pun spontan berteriak karena tabrakan tersebut cukup menimbulkan suara yang keras (saya rasa karena badan bus menghantam tanduk rusa).
Hohenschwangau Schloss
Supir bus pun tidak berhenti setelah kejadian itu, karena kami tahu, jalan di daerah tersebut agak sempit dan jika berhenti akan menggangu kenyamanan pengendara lain. Tetapi ada satu hal yang membuat saya sangat terharu, beberapa detik setelah tabrakan tersebut terjadi, Pak sopir langsung meraih telepon genggamnya. Ia langsung menghubungi pihak yang berwajib, mengatakan bahwa ia telah menabrak seekor rusa kecil dan meminta tolong mereka untuk melihat keadaan di tempat kejadian (bila bangkai rusa masih di sana, maka akan menggangu keamanan dan ketertiban lalu lintas). Satu yang saya dapat dari kejadian itu, kejujuran dan kepedulian sangat dibutuhkan terutama dalam pekerjaan. Saat itu saya spontan pula berkata “Jujur sekali orang ini!”, dan kemudian Muliadi pun spontan menjawab “Memang orang Jerman itu jujur-jujur”, “Pantas negara ini bisa maju” kata saya kemudian dalam hati.
Neuschwanstein Schloss
Setelah beberapa lama kemudian, sampailah kami di Hohenschwangau tepatnya kami berhenti di sebuah halte bus bernama Hohenschwangau Neuschwanstein Castle. Setelah turun dari bus, hanya ada satu kata yang terucap “Wow!”, istana “Cinderella” itu ada di depan mata kami!! Dan memang hostel “Romantik Pension Albrecht” tempat kami tinggal terletak di bawah istana tersebut. Kami langsung ke hostel untuk check in dan mandi. Selesainya kami kembali keluar hostel untuk makan malam. Tapi, daerah tersebut agak terpencil dari kota, lagipula daerah itu sudah mulai terselimuti kabut (jujur saja, saya agak takut melihat keadaan itu, seperti di film-film horror saja). Kami pun terus berjalan menjauhi hostel, dan tetap tidak menemukan cafĂ© atau restoran yang yang terbuka pintunya. Dan akhirnya kami mengurungkan niat untuk makan malam dan kembali ke hostel untuk beristirahat.
Danau Alpsee
Keesokan harinya setelah check out dan menyantap sarapan ala Jerman (“Jerman banget!”kata Muliadi), kami langsung berjalan menuju ticket centre dan membeli 2 lembar Hohenschwangau Schloss ticket dan 2 lembar Neuschwanstein Schloss Ticket. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Hohenschwangau Schloss (Castle), istana berwarna kuning keemasan yang berdiri di atas bukit. Istana tersebut dibangun oleh Raja Maximillian II, beliau tinggal bersama sang istri Marie Friederike dan dua putranya King Ludwig II dan King Otto I. Kami mengelilingi seluruh ruangan di dalam istana dari ruang utama, kamar tidur, ruang kerja sampai dapur, menurut seorang tour guide, benda-benda yang ada di dalam istana pun masih asli.
Muliadi dengan topi khas Bavaria
Tempat berikutnya yang ditunggu-tunggu adalah Neuschwanstein Schloss (atau dikenal dengan nama New Swan Stone Castle). Dari Hohenschwangau Schloss kami naik kereta kuda menuju Neuschwanstein Schloss, rasanya sungguh seperti di dalam cerita dongeng. Konon menurut cerita, bentuk Sleeping Beauty Castle yang sekarang berdiri di setiap Disneyland di dunia terinspirasi dari Neuschwanstein Schloss, dan saya yakin pada saat Anda melihat Neuschwanstein, Anda akan percaya bahwa itulah induk dari Sleeping Beauty Castle. Neuschwanstein Schloss dibangun oleh Raja Ludwig II pada abad ke-19, dan pembangunan istana ini tidak pernah selesai karena King Ludwig II meninggal sebelom istana itu dibangun secara sempurna. Beliau naik tahta pada usia 18 th (1864) setelah kematian ayahnya, ia dikenal sebagai raja yang religious dan bijak. Tetapi pada tahun 1886 beliau dinyatakan mengalami gangguan mental dan beberapa hari setelah itu, ia ditemukan tewas di tepi sebuah danau, dan kematiannya sampai saat ini masih merupakan sebuah misteri. Kami mengelilingi seluruh ruangan yang ada di dalam istana Neuschwanstein, istana ini memang lebih megah dan lebih luas daripada Hohenschwangau Schloss. Bangunan ini pun tercatat sebagai bangunan yang paling sering diabadikan dalam bentuk foto. Sayangnya, kami tidak punya cukup waktu naik ke atas gunung untuk memotret castle secara keseluruhan, sebagai gantinya, kami membeli sebuah buku bergambar dan beberapa lembar kartu pos yang memang bisa menghibur kami dan membuat kami lebih kenal siapa sebenarnya King Ludwig II dan istana megahnya itu.
Fussen Old Town
Sore harinya, kami bermain2 di atas Danau Alpsee yang membeku, yang terletak di antara kedua istana. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju kota Fussen (Fuss : kaki) dan berjalan mengelilingi Altstadt (old town) kota tersebut sebelum kembali ke Heidelberg.
Thursday, April 8, 2010
Neuschwanstein, Kastil Yang Tak Pernah Selesai
Labels: Europe Series
Posted by Veronica Vania at 1:18 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment