Sunday, July 26, 2015

Liburan Musim Panas di Cote d'Azur


Promenade des Anglais
Pada awal bulan Juli, kami bertiga berkesempatan untuk berlibur ke Perancis tenggara di wilayah Provence (baca: pro-vas), tepatnya daerah Cote d'Azur (baca : kot-de-asyur), yang disebut French Riviera dalam bahasa Inggris. Nama Cote d'Azur berarti "azur-blue coast" atau "pantai berwarna biru langit". Daerah tersebut menunjuk pada garis pantai dari laut Tengah di Perancis paling selatan, membentang dari timur di kota Menton (perbatasan Perancis-Italia) sampai ke barat di sekitar kota Toulon. 



Kali ini kami mengunjungi beberapa kota di Cote d'Azur, yaitu Nice (baca: nis), Cannes (baca: kans), Saint Tropez (baca: san-trope) dan Marseille (baca: mar-sey). Di kota Nice, kami menginap 3 malam, sedangkan di Cannes dan Saint Tropez kami hanya punya waktu berkunjung untuk beberapa jam saja, di Marseille 2 malam.



Nice Port
Tanggal 4 Juli, kami berangkat pukul 9.30 pagi, naik mobil (tentu saja sang suami yang mengemudi) dari daerah Karlsruhe (Jerman) tempat tinggal kami (1,5 jam terlambat dari rencana) menuju kota Nice, melewati kota Lugano di Swiss untuk makan siang. Waktu perjalanan agak panjang karena ada pembangunan jalan tol di daerah Baden-baden (Jerman) dan kemacetan di beberapa wilayah jalan tol di Swiss. Tetapi kami tidak merasa bosan karena kemacetan-kemacetan tersebut, pemandangan-pemandangan yang kami lewati selama perjalanan sangatlah menghibur: pegununan Alpen yang puncaknya kadang masih tertutup salju, danau yang airnya berwarna hijau kebiruan. Kemudian kami memasuki Italia melalui jalan tol ke arah kota Turin, terus ke selatan melewati kota Ventimiglia dan menelurusi jalan di tepi Laut Liguria, dimana kita bisa melihat laut lepas dengan kapal-kapalnya dari jarak yang dekat. 



Vieille Ville
Staff hotel tempat kami menginap di Nice sempat menefon kami untuk menanyakan apakah kami jadi datang, karena batas waktu maksimal check in adalah pukul 20.00. Dengan mencuri-curi sedikit "batas kecepatan" di jalan tol, sampailah kami di hotel pukul 20.05, kami check in, menaruh barang bawaan ke kamar, kemudian berjalan menuju pantai untuk menikmati sunset dan makan malam.



Keesokan harinya, kami berjalan kaki menuju tempat keramaian kota Nice menyusuri Promenade des Anglais (jalan sepanjang pantai) ke arah timur. Hotel tempat kami menginap letaknya di sebelah barat, daerah Les Baumettes, memang tidak jauh dari pantai, tapi agak jauh dari pusat kota. 



Nicoise Salad
Kami sarapan di sebuah restoran bernama Le Gustave 5 yang letaknya persis di sebelah Hard Rock Cafe, mereka menyajikan paket menu makan pagi yang enak dengan harga terjangkau, 10€ per menu yang terdiri dari 1 croissant (enak luar biasa), 1/2 baguette, 1 butter, 1 selai, omelet telur dan ham (atau 2 telur mata sapi + bacon), segelas kopi + susu, dan 1 gelas orange juice. Air putih dingin gratis! 



Sangat jarang di daerah promenade Nice menemukan restoran yang cukup murah dan enak. Daerah Cote d'Azur merupakan daerah turis, apalagi di musim panas yang bisa dibilang sedang high season, harga makanan dan minuman pun jauh lebih mahal dibandingkan daerah-daerah lain. Contoh perbandingan yang paling terasa adalah es krim. Di Jerman, 1 scoop es berharga 1€ saja bahkan kadang ada yang menjual 0.80€/scoop, sedangkan di Nice kami hanya menemukan ice cream paling murah seharga 2.50€ di daerah keramaian.



Monaco
Kami berjalan terus ke arah timur sampai ke Vieille Ville yaitu Old Town atau kota tua, di mana kita berjalan di gang-gang kecil di antara bangunan-bangunan kuno, melihat atau berbelanja di toko-toko souvenir, menjelajahi pasar tradisional di area Cours Saleya pada pagi hari di mana sayuran dan bunga segar dijual, makanan khas dan juga kerajinan tangan. Pada siang dan malam hari, tempat ini menjadi surga makanan karena di sekelilingnya berjajar banyak restoran yang menawarkan berbagai jenis makanan, pizza, pasta, steak, kebab, dll. Restoran-restoran ini pada umumnya menawarkan paket menu seharga 20-30€ per paket yang terdiri dari appetizer, main course dan dessert (belum termasuk minuman, hanya disediakan air putih gratis). Satu makanan yang harus dicoba bila Anda berkunjung ke Nice adalah Nicoise Salad (baca: ni-swaz) atau salad khas Nice, potongan sayur, tomat, buah olive, ikan tuna, telur rebus yang disiram dengan dressing campuran cuka dan minyak olive.



Monte Carlo Casino
Dari Vieille Ville berjalan terus ke arah tenggara tepatnya di seberang Promenade, kita akan sampai di Colline du Château (Castle Hill), yang terkenal sebagai tempat mengabadikan panorama paling indah di Nice. Kita bisa menaiki anak tangga menuju ke atas, atau dengan lift. Ke tempat ini bebas masuk tanpa harus membeli tiket. Dari Colline du Château, kita bisa menyaksikan panorama berbeda, ke sebelah barat dengan panorama Promenade des Anglais, pantai panjang berwarna biru nan indah, dan Anda akan melihat Cote d'Azur yang sesungguhnya!!! Ke sebelah timur dengan panorama pelabuhan kota Nice dengan kapal-kapalnya.

Cannes
Hari ketiga di Nice, kami naik kereta menuju Monaco, sebuah negara kecil di sebelah timur kota Nice, perjalanan kereta dari Nice ke Monte Carlo Station ditempuh dalam waktu 20 menit saja. Sesampai di sana kami berjalan menuju daerah Casino Monte Carlo, pusat keramaian kota tersebut yang dipenuhi dengan kemewahan. Tak aneh jika Anda melihat mobil-mobil mewah seperti Ferrari, Lamborghini, Porsche, dll bersliweran di sana, karena Monaco memang disebut-sebut sebagai tempat berkumpulnya golongan orang elite atau milyuner. Harga makanan dan minuman di sana pun sangat tinggi. 

Dari daerah Casino, kami berjalan menuju ke arah pelabuhan (Monte Carlo Harbor), kemudian menuju ke Place du Palais (Prince Palce) yang merupakan istana tempat tinggal keluarga pangeran Monaco. Kita bisa masuk ke dalam istana dengan membayar tiket masuk seharga 8€ per orang. Tak jauh dari istana, kita bisa mengunjungi Saint Nicholas Cathedral. Sehabis berkeliling di sekitar istana, kami ke stasiun, naik kereta kembali ke Nice.

Notre Dame de la Garde, Marseille
Keesokan harinya, kami berangkat pagi hari menuju kota Cannes, perjalanan memakan waktu 40 menit saja. Kami memilih until menyelusuri jalan mobil di tepi garis pantai daripada melewati jalan tol. Sesampai di Cannes, kami parkir mobil di sebuah underground parking lots bernama Pantiero (sangat direkomendasikan jika Anda datang dengan menyetir mobil) yang letaknya persis di belakang Vieux Port (pelabuhan utama) dan tak jauh dari pusat kota. Jika Anda ingin berenang atau berjemur di pantai, kota Cannes ini lah yang cocok, alasan utamanya adalah karena pantai di Cannes memiliki pasir yang lembut dan tidak melukai kaki kita. Pantai di Nice tidak berpasir, tapi berbatu kerikil sehingga jika Anda ingin berjemur atau berenang di pantai, dianjurkan untuk memakai sandal yang agak tebal. Sehabis bermain di pantai, kami berjalan ke pusat kota Cannes yang di sebut Le Suquet. Di sana banyak ditemukan toko unik yang menjual produk lokal seperti sabun batangan, souvenir, dll. 
Frioul Archipelago

Selanjutnya kami berangkat dari Cannes ke kota Saint Tropez, kota yang terkenal karena banyak artis, aktor dan konglomerat dunia (seperti Beyonce, Mohamed Al-Fayed, Leonardo Dicaprio, dll) yang memiliki rumah mewah di kota tersebut. Di sana kita bisa naik kapal selama kurang lebih 1 jam (harga tiket 11€ per orang) untuk berkeliling di laut sekitar dan melihat rumah-rumah mewah tersebut.

Dari Saint Tropez, kami menuju kota Marseille, perjalanan sekitar 2 jam. Keesokan harinya, kami naik kapal dari pelabuhan utama menuju Frioul Archipelago, tiket seharga 11€ per orang. Sebuah kepulauan kecil yang wajib dikunjungi jika Anda berkunjung ke kota ini. Kita bisa menyelusuri pulau tersebut dengan berjalan kaki, yang membuat kami jatuh cinta pada pulau ini adalah pantainya yang bening bersih. Bawalah pakaian renang jika berkunjung ke pulau ini. Selain itu, di Marseille ada dua gereja yang sangat megah yaitu Cathedrale de la Major yang terletak dekat dengan Vieux Port (pelabuhan) dan Notre Dame de la Garde yang terletak di atas bukit. Dari depan Notre Dame de la Garde, kita bisa menyaksikan indahnya kota Marseille dengan pelabuhannya. 

Liburan yang tak terlupakan, terima kasih Tuhan!





Saturday, May 17, 2014

Tips-tips membawa bayi/balita naik pesawat

Bulan januari kemarin anakku (saat itu umur 23 bulan) pertama kalinya naik pesawat dan pertama kali berkunjung ke Indonesia. Saya pun pertama kali naik pesawat dengan membawa anak balita. Terus terang saya agak deg-deg-an karena perjalanan sangat panjang, anakku pun sedang kurang enak badan, jadi takut si anak rewel (yang sudah pasti akan mengganggu kenyamanan penumpang lain). Kami terbang dari Frankfurt menuju Singapore (12 jam). Menginap satu malam di Singapore, keesokan harinya terbang dari Singapore langsung ke Bandung (1.5 jam).

Anak saya tidur selama perjalanan pulang pergi, hanya saja dia sempat menangis karena telinganya sakit ketika pesawat mendarat dan dia tidak mau minum/mengunyah. Tapi saya bersyukur karena perjalanan panjang kami bisa dibilang lancar. Bagi Anda yang akan pertama kali naik pesawat dengan bayi/anak Anda, jangan khawatir. Ternyata membawa bayi naik pesawat tidak sesulit dan serepot yang Anda bayangkan sebelumnya, asal kita mengerti trik dan celahnya. Ada beberapa tips yang akan saya bagikan untuk Anda semua yang akan berpergian bersama bayi/balita naik pesawat.

1. Pilih jam malam
Jika perjalanan sangat panjang (di atas 7 jam misalnya), pilihlah jam penerbangan di malam hari, di waktu jam tidur malam anak sehingga kita pun bisa beristirahat. Jangan ambil penerbangan siang hari jika perjalanan Anda lebih dari 7 jam. Kalau perjalanan Anda hanya 3-4 jam misalnya, Anda bisa memilih jam penerbangan siang, jam tidur siang anak.

2. Membeli tiket
Anak-anak berumur 0-2 tahun membayar harga tiket paling sedikit karena mereka tidak mendapat 1 kursi, Anda akan memangku nya selama perjalanan atau membaringkan mereka di dalam baby bed (basinet). Tetapi jika anak-anak Anda sudah berumur lebih dari 1.5 tahun dan perjalanan Anda cukup panjang, saya menganjurkan Anda untuk membelikan "kursi pesawat" untuk mereka, karena dengan demikian Anda dan anak punya space yang lebih leluasa (tidak perlu dipangku-pangku). Ada airline-airline tertentu yang masih memberikan harga sedikit lebih murah untuk anak berumur antara 2-12 tahun.

3. Booking tempat duduk
Di setiap pesawat tersedia beberapa baris (di bagian depan) dengan space lebih besar yang biasanya diperuntukkan bagi penumpang yang membawa bayi/balita, penumpang lansia, penumpang yang sakit, penumpang pengguna kursi roda dll. Untuk mendapatkan tempat di baris depan tersebut kita dianjurkan untuk memesan (booking) terlebih dahulu dengan cara menghubungi airline melalui telefon atau email (dengan menyebutkan booking code kita) setelah kita membeli tiket, atau minta tolong kepada agen perjalanan tempat kita memesan tiket. Airline akan mengirimkan atau memberitahukan nomor tempat duduk kita. Penumpang yang membawa bayi bisa sekalian memesan basinet (box tempat tidur bayi yang akan dipasang di dinding depan tempat duduk, untuk bayi baru lahir sampai anak dengan berat badan 12 kg) pada saat memesan nomor tempat duduk.

4. Stroller
Jangan khawatir kesulitan untuk membawa stroller ketika akan berpergian naik pesawat. Anda bisa dengan tenang mendorong-dorong stroller dan bayi Anda sampai di ruang tunggu naik pesawat atau bahkan sampai di dalam airbridge (belalai pesawat). Saat sebelum Anda naik ke pesawat, biasanya petugas akan menyediakan kantong plastik besar untuk menyimpan stroller, alangkah baik dan praktis apabila stroller Anda bisa dilipat, berukuran relatif kecil dan ringan (buggy, biasanya untuk anak di atas 1 th). Setelah turun pesawat, silakan menunggu di dalam airbridge, petugas akan mengantar stroller Anda ke tempat Anda menunggu.

5. Susu dan Makanan
Untuk bayi dan anak yang minum susu bubuk, bawalah beberapa botol susu, supaya kita tidak perlu mencuci-cuci botol susu di dalam pesawat, kalaupun Anda terpaksa harus mencuci botol susu saat perjalanan, mintalah tolong kepada pramugari untuk mencucinya dan membilasnya dengan air panas. Bawa juga susu bubuk yang sudah ditakar di dalam botol-botol kecil dalam jumlah yang cukup atau lebih baik dalam jumlah berlebih. Bawalah juga termos air panas berukuran sedang. Saat di dalam pesawat, mintalah air panas atau air dingin kepada pramugari. Saat landing dan take off, berikan anak Anda ASI atau susu/air minum dalam botol atau biskuit atau pacifier (empeng) untuk mencegah sakit di telinga karena perbedaan tekanan udara. Selama perjalanan, kita bisa meminta makanan ringan dan makanan berat untuk anak (biskuit, kue, sandwich, dll), atau makanan bayi (di dalam toples kecil), bawalah juga snack favorit anak Anda jikalau dia tidak suka makanan yang disediakan di dalam pesawat.

6. Popok dan pakaian
Bawalah popok dan pakaian (baju, celana, kaos dalam, jaket dll) dalam jumlah lebih, jika basah atau kotor kita masih punya cadangan. Untuk kepraktisan, jangan gunakan popok kain, gunakan popok sekali pakai. Sediakan jaket/mantel yang agak tebal, topi bayi, kaos kaki atau stocking karena di dalam pesawat udara cukup dingin.

7. Mainan
Jika si kecil tidak tertidur dan supaya dia tidak merasa bosan, bawalah mainan favorit nya, atau bawalah benda2 kecil yang bisa membuat dia sibuk seperti pensil warna dan buku gambar, buku mewarnai, kertas lipat, dll.

8. Obat-obatan
Bawalah obat-obatan yang dibutuhkan anak misalnya paracetamol untuk anak-anak, obat batuk, obat pilek (air garam yang biasanya disemprotkan ke dalam hidung agar tidak mampet), minyak kayu putih/minyak telon, dll.

Daftar barang bawaan keperluan bayi/anak yang harus dibawa ke dalam cabin pesawat:
-Popok (pampers)
-Kantong plastik (untuk pampers kotor)
-Perlak (alas saat mengganti popok bayi agar bayi tidak langsung menyentuh meja tempat ganti popok, alangkah baiknya jika ada alas yang sekali pakai)
-Gendongan bayi (baby sling)
-Cream atau baby body lotion
-Botol susu/botol minum
-Termos
-Susu bubuk
-Snack bayi
-Obat-obatan
-Baju dan celana
-Kaos kaki/stocking
-Topi
-Jaket
-Mainan

Tips tambahan:
- Saat menunggu penerbangan di airport, ajaklah si kecil bermain, supaya dia lelah dan akan tertidur di pesawat.
- Isilah setiap botol susu yang sudah steril dengan air dingin bersih, sehingga saat kita akan memberikan susu kepada anak, kita hanya tinggal menambahkan air panas dan susu bubuknya.
Demikian tips yang bisa saya berikan, semoga bermanfaat dan bisa membantu Anda semua yang akan berpergian bersama bayi dan anak-anak Anda.

Wednesday, December 11, 2013

Dresden, Kota Yang Telah Dibangun Kembali

Dresden, ibukota negara bagian Sachsen di Jerman sebelah timur, terletak tidak jauh dari perbatasan Jerman dan Republik Ceko. Kota ini hancur pada waktu Perang Dunia ke-2, tetapi kemudian mulai dibangun kembali pada tahun 1990 setelah bersatunya Jerman Timur dan Jerman Barat. Kota Dresden adalah kota yang cukup besar, maka dari itu kami menginap 3 malam di sana, itu saja kami merasa kurang, karena ada beberapa tempat yang masih tidak sempat kami kunjungi.

Hofkirche
Hari pertama (5 Agustus), kami berjalan kaki dari hotel tempat kami menginap yang terletak di area Innere Neustadt, menyebrangi sungai Elbe melalui Augustusbrücke (Jembatan Augustus) dan sampailah kami di pusat kota Dresden, yang juga area historik kota ini. Dari atas jembatan, akan terlihat bangunan-bangunan megah dan indah seperti Katolische Hofkirche (sebuah bangunan gereja Katolik yang terbuat dari batu berwarna kuning kehitaman, terletak langsung di depan Augustusbrücke) dan Frauenkirche (bangunan gereja Kristen berkubah yang sangat indah). Kedua bangunan yang terlihat paling mencolok karena tinggi dan bentuknya yang khas).
Zwinger Palace
Selain kedua bangunan tadi, di daerahh ini ada beberapa tempat lain yang wajib dikunjungi. Zwinger Palace, istana bergaya Barok yang memiliki taman indah dan koleksi patung-patung porselen yang unik dan bernilai seni tinggi, terletak tak jauh di sebelah barat daya Hofkirche, jalan kaki sekitar 5 menit dari Hofkirche. Semperopfer, gedung opera terkenal yang dibangun pada tahun 1800 an, di gedung ini lah ditampilkan banyak karya terkenal, terletak di sebelah barat Hofkirche atau di sebelah utara Zwinger Palace. Di sebelah timur Hofkirche kita melewati Augustusstrasse (Jalan Augustus), di jalan tersebut terletak lukisan besar di dinding, Fürstenzug, menggambarkan raja-raja yang pernah berkuasa di Sachsen (Saxony). Kemudian lukisan sepanjang 100 meter tersebut diganti dengan porselen dan menjadi karya seni porselen terbesar di dunia. Fürstenzug berada tepat di dinding utara sebelah luar dari Stallhof (Stable Courtyard).
Fürstenzug
Dari situ berjalan ke arah timur, kita akan menemukan Frauenkirche (Church of Our Lady, sebuah gereja kristen Lutheran yang paling terkenal di Dresden dan menjadi icon kota tersebut. Gereja ini hancur dibom saat Perang Dunia ke-2 dan dibangun kembali setelah bersatunya Jerman tahun 1990. (FYI: di sekeliling Frauenkirche ada banyak restaurant dan cafe, yang menyajikan makanan asia, eropa dan amerika). Di Dresden, banyak pula museum terkenal seperti Deutsche Hygienie Museum, Transport Museum, dll. Dresden memiliki area perbelanjaan yang sangat luas, yaitu di daerah bernama Altmarkt (Old market) dengan salah satu pusat pertokoan terkenalnya Altmarkt Gallerie. Altmarkt bisa dicapai dengan berjalan kaki selama kurang lebih 5 menit dari Frauenkirche ke arah barat daya.

Frauen Kirche
Satu tempat lagi yang kami rasa layak untuk dikunjungi adalah Pfunds Molkerei, sebuah Milk Shop yang mengantongi gelar "Der Schönste Milchladen der Welt" (the most beautiful milk shop in the world) versi Guiness Book of Record, karena seluruh dinding dan langit-langit toko ini dihiasi oleh porselen-porselen bergambar klasik. Toko ini terletak di Bautznerstrasse 79, saat itu kami secara tidak sengaja karena toko ini terletak tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Milk shop tentu saja menjual susu segar, keju, makanan khas lainnya, sabun mandi yang terbuat dari susu, dll. Sayang sekali pengunjung dilarang untuk memotret di dalam toko, tapi kita bisa melihat foto-foto di dalam toko tersebut di website ini http://www.pfunds.de/ Jika Anda hanya memiliki sedikit waktu singgah kota ini, jangan khawatir karena kita pun bisa mengelilingi kota Dresden dengan naik bus Dresdner Stadtrundfahrt (Dresdner sightseeing tour), bus bertingkat berwarna merah yang bermula di Theaterplatz an der Augustusbrücke (di depan Katolische Hofkirche atau di depan Jembatan Augustus). Kita bisa memilih diantara 4 jalur dengan harga berbeda, waktu itu kami memilih jalur pertama yang melewati 22 tempat, harga tiket 19 euro per orang. City tour ini adalah "hop in hop off", kita bisa turun atau naik di halte yang kita inginkan. Bus tersedia setiap 15-30 menit dari pk. 09.30-22.00. Jalur pertama (Linie 1) ini melewati tempat-tempat terkenal di Dresden seperti Semperoper, Zwinger, Frauenkirche, Altmarkt, Deutsche Hygienie Museum, Pfunds Molkerei, dll. Keterangan lebih lanjut bisa ditemukan di website http://www.stadtrundfahrt-dresden.de/

Dresdner Eierschecke
Ada dua macam makanan khas yang patut dicoba. Sächsischer Sauerbraten mit Kartoffel Knödel (Sour roast meat and potato dumplings in Saxony style) yaitu daging sapi yang telah direndam dengan cuka dan rempah-rempah selama beberapa hari, kemudian dimasak bersama bumbu berwarna cokelat, dan disajikan dengan bola-bola kentang. Dresdner Eierschecke, kue 3 lapis khas kota Dresden, lapis paling bawah adalah bolu tipis, lapis tengah campuran quark (sejenis sour cream) dan vanilla pudding (vla vanilla), lapis paling atas vanilla pudding. Kue ini mengambil nama "Schecke" karena pembuat kue ini terinspirasi oleh pakaian pria di abad pertengahan. Arsitektur bangunan-bangunannya yang unik dan indah, penduduknya yang ramah, makanan khasnya yang enak telah menjadikan Dresden sebagai salah satu kota favorit kami.

Monday, August 12, 2013

Beautiful Spa Town, Karlovy Vary

Pusat kota Karlovy Vary
Karlovy Vary, yang juga dikenal dengan nama Carlsbad, merupakan sebuah kota spa yang terletak di Bohemian (Republik Ceko) barat. Kota ini terkenal karena memiliki ratusan sumber air mineral yang tentunya juga dipercaya bisa menyehatkan badan. Tak salah jika setiap orang yang tinggal maupun yang berkunjung ke sana membawa sebuah cangkir porselen berbentuk unik kemana-mana. Di sana orang bebas menampung gelasnya dengan air mineral yang memancar dari setiap kran yang tersedia. Air di setiap kran memiliki suhu dan rasa yang berbeda. Vridelni Kolonada merupakan sumber air mineral yang terpanas, yakni sekitar 76 derajat Celsius dan memancar ke atas seperti air mancur. Letaknya tepat di dalam sebuah gedung abu-abu bertuliskan "Vridelni Kolonada" yang terletak di depan gereja St. Magdalena (gereja dengan dua menara berwarna hijau).
Cangkir porselen
Selain karena sumber airnya, Karlovy Vary juga merupakan kota yang sangat indah, bangunan-bangunan khas dan sungai air hangat yang mengalir di tengah kota ini pun telah menarik banyak wisatawan. Kota ini pun sering dijadikan lokasi syuting film, salah satunya film Casino Royale. Kita bisa menikmati keindahan kota ini dari atas menara Diana Lookout Tower. Untuk bisa sampai ke Diana Tower, kita harus naik kereta gunung dari stasiun Marianska (terletak di sebuah jalan kecil bernama Marianska, di sebelah hotel Pupp, di ujung jalan Stara Louka). Tiket kereta pulang pergi 80 kc per orang.
Penjual Oplatky
Karlovy Vary juga memiliki makanan dan minuman khas yaitu Oplatky dan Becherovka. Oplatky adalah wafel khas Karlovy Vary berbentuk bulat (agak besar kira-kira berdiameter 15 cm) dan tipis seperti hosti, tersedia dalam berbagai rasa, seperti vanila haselnut (original classic), cokelat, coconut, lemon dll. Becherovka adalah minuman beralkohol dengan rasa agak manis.

Tuesday, June 25, 2013

Arsitektur Indah di kota tua Colmar

Hari Senin tanggal 22 April lalu, saya dan keluarga pergi mengunjungi salah satu kota di daerah Alsace, Perancis yaitu kota Colmar, yang juga salah satu kota penjaring turis di Perancis karena arsitektur uniknya. Perjalanan dari Heidelberg menuju Colmar dengan mobil memakan waktu kurang lebih 2 jam. Sesampai di sana pagi hari kami menuju hotel, kemudian berjalan kaki dari hotel menuju ke pusat kota. Hotel berada di jalan Route de Bale, kira-kira 20 menit dari pusat kota dengan berjalan kaki.

Awalnya berencana hari Minggu untuk berangkat ke sana, tapi kami pikir hari Minggu di sana akan sepi karena toko-toko banyak yang tutup (pengalaman di Jerman, karena di Jerman toko-toko libur pada hari Minggu), ternyata datang ke Colmar pada hari Senin adalah sebuah keputusan yang salah. Di Colmar, sebagian toko-toko bahkan restaurant yang tutup pada hari Senin. Saat itu kami agak kesulitan mencari makan. Sebelumnya saya sudah mengincar beberapa restaurant di sana yang dinilai baik dan sangat populer di kalangan orang-orang pecinta kuliner. Tapi di antara beberapa restaurant tersebut, satupun tidak ada yang saya coba karena semuanya tutup. Akhirnya karena siang hari kita sudah lapar sekali, kita masuk ke sebuah restaurant Italia bernama Le Petite Schlossberg, ternyata makanannya pun enak dan porsinya agak banyak.
Setelah makan siang, kami punya tenaga lagi untuk menjelejahi kota itu. Atraksi utama kota ini adalah arsitektur kota tua ini, bangunan-bangunannya unik bentuknya dan indah karena warna-warnanya. Di sana juga ada beberapa museum seperti Unterlinden Museum dan Bartholdi Museum (Bartholdi adalah seorang pemahat Perancis yang merancang patung Liberty di New York, AS). Kami tidak masuk ke museum karena kami hanya punya waktu 1 hari di sana dan kami hanya ingin menikmati keindahan arsitektur kota ini.
Pada awalnya kami bingung ke mana kami harus berkeliling untuk melihat keseluruhan kota tua ini. Tapi pada akhirnya kami menemukan mobil-mobil pariwisata berwarna hijau yang disambung berbentuk kereta bernama Petit Train Touristique de Colmar, yang berpusat di depan Museum Unterlinden (alamatnya 2 rue Chauffour), dan kami ikut naik mobil tersebut dengan biaya 6 euro per orang, perjalanan sekitar 35 menit. Di dalam mobil tersebut kita bisa mendengarkan sejarah kota tersebut dalam berbagai bahasa (menggunakan headphone). Mobil ini melewati tempat-tempat terkenal di Colmar seperti Le Petite Venise (Little Venice, kanal seperti di kota Venice, Italia), Saint Martin Church (gereja tua berwarna merah keemasan), Koifhus (Old House), Fontaine Schwenti (air mancur kecil dengan patung Bartholdi di tengahnya).
Sehabis itu, kami berjalan lagi menyusuri area pertokoan di seberang gereja Saint Martin dan di daerah dekat Koifhus. Di sana banyak toko souvenir unik dan patisserie yang menggoda. Untungnya toko souvenir dan toko makanan banyak yang tidak tutup pada hari Senin. Kami masuk ke sebuah patisserie bernama Thierry Mulhaupt Patisserie yang beralamat di 6 Place de l‘École (alamat website http://www.mulhaupt.fr/en/patisserie-mulhaupt-colmar-55.html). Penasaran mencoba beberapa potong kue dan sekotak macarons dengan 12 macam rasa, ternyata semuanya enak, fresh dan harganya masih terjangkau. Sebenarnya kami sudah berencana mendatangi sebuah Patisserie bernama Gilg di 60 Grand-Ruhe (tidak jauh dari Le Petite Venise), tapi kami terlalu sore tiba di sana, jadi kami hanya melihat dari luar saja.
Le Petite Venise
Untuk makan malam, kami mencoba makanan khas Alsace di sebuah restaurant dekat Unterdenlinden Museum bernama Pfeffel (http://www.unterlinden.com/). Restaurant ini mudah ditemukan karena letaknya di pusat keramaian dan bangunannya mencolok berwarna merah dengan jendela berwarna hijau. Makanannya enak dan porsinya pas, pelayannya pun ramah, toiletnya sangat bersih, harganya tidak terlalu mahal. Hampir di semua restaurant di Colmar, kita bisa meminta petunjuk dalam memilih jenis dan rasa wine yang kita suka. Setelah makan malam, kami berjalan ke Le Petite Venice sekalian ke arah hotel, indah sekali Le Petite Venise di siang dan malam hari. Kunjungan ke Colmar perlu diulang mengingat kami belum puas menjelajahi toko-toko dan makanan di sana. Ingat, jangan datang pada hari Senin!

Friday, March 8, 2013

Cesky Krumlov, Kota Kecil Yang Menawan

Kota Cesky Krumlov dari atas kastil
Pusat kota Cesky Krumlov
Dari Kutna Hora kami menuju Cesky Krumlov, kota kecil di selatan Republik Ceko, perjalanan ditempuh selama kurang lebih 3 jam. Kami langsung menuju ke penginapan, menaruh barang-barang, kemudian mulailah kami berjalan ke arah pusat kota Cesky Krumlov (penginapan kami terletak di pinggiran kota, tapi tidak jauh karena kota tersebut pun sangat kecil). Hari semakin gelap, dan lampu-lampu kota mulai menyala, indah sekali, apalagi di daerah sekitar kastil Krumlov. Banyak toko unik di sana terutama toko mainan kayu untuk anak-anak. Malam itu hujan turun agak deras dan bercampur salju, kami langsung mencari restoran untuk berteduh dan memang karena kami belum makan malam. Restoran terdekat yang kami lihat adalah Restoran Konvice, terletak di Jalan Horni Ullce 144, di seberang Cathedral. Menu andalah di restoran ini adalah Lumber Jack Steak with baked Potatoes dan Rabbit with Cream Bacon Sauce. Walaupun ini adalah restoran sebuah hotel, tapi harga makanannya terjangkau dan rasanya enak. Untuk makanan penutup, ada berbagai pilihan seperti tiramisu, cheese cake dll, tapi yang khas adalah Poppy Seed Cake dan Honey Cake. Rasa honey cake nya tak kalah dengan Japanese Honey Cake loh! Sehabis makan kami kembali ke penginapan, hujan masih turun, cuaca dingin sekali, dan lantai sangat licin. Jadi saya sarankan jangan pergi ke sana di musim dingin. Apalagi kalau Anda membawa bayi seperti saya saat itu. Keesokan harinya, kami kembali ke pusat kota sebelum akhirnya kembali pulang ke Heidelberg. Pagi hari kami mampir ke Café Piazza di Jalan Kajovska (Jalan Kajovska 67, di dekat Wax Museum) untuk minum kopi dan makan Profiterolle (cream puffs ala Italia). Setelahnya kami berjalan menyebrangi sungai Vltava melalui sebuah jembatan kayu menuju ke Kastil Krumlov. Untuk memastikan tempat yang kita masuki adalah kastil Krumlov, lihatlah apakah di bawah gerbang depan kastil terdapat kandang beruang. Kita bisa melihat seluruh kota Cesky Krumlov dan sungai Vltava di tepinya dari atas kastil, luar biasa indahnya, ditambah hari itu cuaca sangat cerah. Pengunjung bisa masuk ke dalam kastil ataupun menikmati taman di belakangnya, tapi karena waktu kami terbatas, kami hanya melihat-lihat sebentar kemudian turun kembali ke kota untuk makan siang di Restaurant Jakub (Jalan Kajovska 54, tak jauh dari Cafe Piazza).

Thursday, January 17, 2013

Sedlec Ossuary, kapel berdekorasi tulang manusia

Bangunan Kapel
Dari Praha, kami melanjutkan perjalanan ke kota bernama Kutna Hora, kota kecil di Republik Ceko bagian tengah. Kutna Hora terkenal karena gereja-gerejanya, salah satunya adalah sebuah kapel kecil yang memiliki dekorasi dari sekitar puluhan ribu buah tulang manusia. Kapel ini berada di tengah-tengah pemakaman. Konon pada abad ke-14 terjadi wabah penyakit (Black Death atau “Kematian Hitam”) yang menewaskan puluhan juta penduduk Eropa. Pemakaman tersebut akhirnya dibongkar dan diperluas, tulang-tulang manusia yang terkubur di tanah pun diambil untuk dijadikan dekorasi kapel. Sebenarnya hal ini dimaksudkan untuk menghormati orang-orang yang sudah meninggal tersebut.
Dekorasi tulang-tulang di dalam kapel

Friday, January 11, 2013

Prague City in December

Di akhir tahun 2012 kami menyempatkan diri untuk berlibur ke Republik Ceko di Eropa Tengah. Kota pertama yang kami kunjungi adalah ibu kotanya, Praha (atau “Prague” dalam bahasa Inggris, “Prag” dalam bahasa Jerman). Kami berangkat pada tanggal 27 Desember pagi, naik mobil dari Heidelberg ke Praha memakan waktu kurang lebih 5 jam. Kami berhenti di perbatasan Jerman-Ceko untuk makan siang dan membeli stiker yang berharga 16 euro sebagai bukti pembayaran penggunaan jalan tol di Republik Ceko. Kami menuju hotel, sesudah menaruh barang bawaan, kami pergi keluar untuk makan malam saja, karena hujan dan hari sudah gelap. Hotel tempat kami tinggal terletak agak jauh dari pusat kota. Kami perlu naik MRT selama 20 menit untuk sampai di pusat kota.

Astronomical Clock
Keesokan harinya kami berangkat dari stasiun MRT Cerny Most (line B, warna kuning) menuju stasiun Mustek. Keluar dari MRT stasiun, tibalah kami di Wenceslas Square, salah satu tenda-tenda Christmas Market berkumpul. Christmas Market di Prague buka pada umumnya di akhir bulan Desember sampai awal bulan Januari. Berbeda dengan di Jerman yang buka di akhir bulan November dan tutup 2 hari sebelum hari Natal.
Tempat berikut yang kami kunjungi adalah Astronomical Clock yang terletak di Old Town Square. Jam antik yang dirancang untuk menunjukkan informasi-informasi astronomi seperti letak matahari, bulan dan zodiak. Jam ini berdentang setiap jam dan saat ia berdentang, muncullah kedua belas rasul Yesus yang berputar bergantian, dan di atas menara jam tersebut ada seorang yang akan memainkan terompet. Anda akan tahu kapan jam akan berdentang, yakni ditandai dengan banyak kerumunan orang yang menunggu di depan jam tersebut. Di Old Town Square juga ada Christmas Market yang cukup luas dengan pohon Natal yang besar dan sangat indah. Banyak tenda yang menjual mainan kayu untuk anak-anak, khususnya boneka kayu yang bisa digerakkan dengan tali-tali (Marionette). Di kota Praha ada sebuah theater terkenal untuk menonton pertunjukan Marionette di malam hari (http://www.mozart.cz/ ). Sayangnya kami tidak menonton, karena agak repot menonton pertunjukan dengan membawa bayi 10 bulan. Tapi jika Anda punya kesempatan untuk menonton, jangan lewatkan pertunjukan tersebut.
Pemandangan dari Charles Bridge
Di area Old Town juga ada sebuah gereja terkenal yang memiliki dua buah menara unik berbentuk seperti api, yaitu Church of Our Lady Before Tyn atau seringkali disebut Tyn Church. Bangunan gereja bergaya Gothic ini dibuka untuk umum, turis boleh masuk dan melihat isi gereja tersebut secara gratis tetapi ada larangan untuk memotret meski tanpa blitz. Sore hari kami menikmati kota Praha di atas Charles Bridge. Charles Bridge merupakan jembatan paling terkenal, melewati sungai Vltava, menghubungkan Old Town dengan Prague Castle. Jembatan yang dibangun di abad ke-14 di zaman Raja Charles IV ini dihiasi dengan patung-patung Santa/Santo bergaya Barok.
Jewish Synagoge
Keesokan harinya, kami naik Metro ke Namesti Republiky, kemudian berjalan menuju Powder Tower (ke arah barat daya), kembali ke Old Town area untuk melihat Saint Nicolas Church yang berlokasi di belakang Astronomical Clock. Kemudian kami berjalan melalu sebuah jalan yang agak besar di sebelah Nicolas Church, menyusuri jalan tersebut sampai ke Jewish Synagogue (yang disebut juga Old New Synagogue) dan Jewish Cemetery. Synagogue merupakan tempat ibadah orang-orang Yahudi, dan tak jauh dari situ terdapat sebuah lokasi pemakaman orang-orang Yahudi dengan batu-batu nisan yang rapat dan bertumpuk-tumpuk. Sayang sekali kami ke sana hari Sabtu, Synagogue dan Cemetery tidak dibuka.
Dancing House
Kami berjalan ke arah barat, melewati jembatan, menuju Prague Castle yang berada di atas bukit. Cukup lelah mendorong kereta bayi sambil naik ke bukit. (Para turis kebanyakan naik ke atas bukit dengan anak tangga, bagi yang membawa kereta bayi, bisa melewati jalan menanjak di sebelah gedung, jalannya memang agak tersembunyi). Tiket masuk ke Prague Castle tersedia dalam 2 jenis, yaitu long ticket atau short ticket. Dengan long ticket kita bisa masuk ke tempat atau area castle lebih banyak. Karena kami tidak punya banyak waktu, kami saat itu hanya membeli short ticket. Dengan short ticket, kita bisa masuk ke area Golden Lane (satu jalan kecil dan pendek dengan bangunan-bangunan kecil yang unik), Saint Vitus Cathedral (bangunan yang terlihat tinggi menjulang jika Anda berdiri di Charles Bridge), Basilica Saint George, dan Old Royal Palace. Jika Anda beruntung, Anda bisa menyaksikan upacara pergantian prajurit di Prague Castle. Sore hari kami berjalan menyusuri Sungai Vltava ke arah selatan dan menemukan Dancing House, yang termasuk dalam salah satu bangunan terunik di dunia.
Saint Vitus Cathedral
Makanan dan minuman khas Jika Anda pergi ke Ceko, Anda wajib mencoba beberapa makanan dan minuman khas berikut ini. 1. Roast Pork Knee Kaki babi panggang yang berukuran cukup besar, Recommended Restaurants: -Apropos Restaurant (http://www.restaurantapropos.cz ) -Mustek Restaurant (http://www.restaurantmustek.cz/new/) 2. Roast Duck with dumpling and red cabbage Bebek panggang yang disajikan dengan dumpling (dalam bahasa Ceko disebut “knedlík”, kalau di Jerman namanya Kloß atau Knödel, terbuat dari kentang atau tepung yang kemudian direbus, kalau menurut pengalaman lidah saya sendiri dumpling Ceko itu seperti kue bolu rebus yang terbuat dari kentang dan padat, tapi enak loh) dan asinan kol merah (kalau di Jerman namanya Rotkohl atau Blaukraut). Recommended Restaurant: -Kotleta (http://www.kotleta.cz/o-kotlete.html) 3. Sirloin with dumpling and cream Sirloin steak yang disajikan dengan bumbu, dumpling (+ kol merah) dan cream. Recommended Restaurant: -Kotleta 4.Potato Chips Kripik kentang goreng yang berbentuk spiral, dijual di pinggir-pinggir jalan atau di tenda Christmas Market. 5.Bir hitam Menurut saya, bir hitam Ceko tidak sepahit bir hitam lain. Bir di sana pun biasanya tersedia dengan berbagai macam jenis tetapi orang-orang bilang bir hitam lah yang patut dicoba. Dan pada umumnya, harga bir lebih murah daripada air putih. 6.Hot wine Di musim dingin, banyak penjual hot wine di tenda-tenda Christmas Market khususnya di area Old Town. Hot wine merupakan arak anggur merah (red wine) yang dipanaskan dan dicampur dengan rempah-rempah seperti kayu manis, bunga lawang (star anise), lemon, dll. Biasanya dijual dengan harga 40 CZK per gelas. 7.Hot pear/Hot apple Banyak restaurant pun menyediakan minuman khas musim dingin seperti hot pear dan hot apple. Jus pear/jus apel yang dicampur dengan rempah-rempah. Recommended restaurant: -Kotleta
Roasted Pork Knee
Informasi-informasi seputar Praha 1. Metro kota Praha terbagi atas 3 jalur, yakni Line A (warna hijau), Line B (warna kuning) dan Line C (warna merah). Ada berbagai macam tiket Metro, misalnya tiket sekali jalan (berlaku hanya 30 menit, dengan harga 24 CZK), tiket 24 jam, tiket 3 hari, tiket 5 hari, dll. Tetapi pengalaman kami di sana, kami hanya membeli 1 tiket sekali jalan untuk pergi dan untuk pulang, total pulang pergi 48 CZK per orang. Menurut saya, Anda tidak membutuhkan tiket 24 jam atau tiket 3 hari dll, karena Praha adalah kota yang memiliki banyak tempat menarik, dan lebih baik dijelajahi dengan berjalan kaki. Kalau Anda naik turun Metro, waktu seharian akan habis untuk naik turun escalator di Metro Station (Eskalator MRTnya panjang sekali). Pembelian tiket Metro bisa melalui dua cara, lewat mesin otomatis (hanya menerima uang coin), atau membeli langsung di loket (cukup menyita waktu untuk antri). 2. Saat membeli barang di toko souvenir, Anda bisa menawar harga barang tersebut. Si penjual biasanya akan memberikan potongan harga sekitar 50 CZK. 3. Tip restoran biasanya 10% dari jumlah total, biasanya pelayan restauran akan bilang bahwa harga yang tertera sudah atau belum termasuk service 10%. 4. Jika Anda berpergian dengan bayi atau balita, saya anjurkan untuk pergi tidak saat musim dingin. Selama di Ceko saya tidak menemukan toilet yang dilengkapi dengan meja ganti popok, meskipun hampir di semua restauran disediakan kursi makan bayi (baby chair). Saat itu terpaksa kami mengganti popok di luar ruangan dan yang pasti bayi kami kedinginan. Ada toko-toko drogerie yang menyediakan meja ganti popok seperti DM (Drogerie Markt) dan Rossmann, tapi toko-toko tersebut hanya saya temukan di area Mustek. Itulah pengalaman kami melewati hari-hari terakhir di tahun 2012, semoga informasi yang diberikan bisa bermanfaat bagi Anda semua khususnya yang hobi berlibur.

Tuesday, November 6, 2012

Burg Hohenzollern, Kastil Megah Di Atas Gunung

Hadiah ulang tahun kali ini sangat berkesan, suami mengajakku mengunjungi sebuah kastil indah, Burg Hohenzollern (Hohenzollern Castle), tempat tinggal keluarga Hohenzollern yang menguasai kerajaan Prussia di abad pertengahan. Pewaris tahta kerajaan Prussia saat ini adalah Pangeran George Friedrich, istrinya adalah Puteri Sophie. Tanggal 2 Oktober pagi hari kami berangkat dari Heidelberg, naik mobil langsung menuju ke sana. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam. Burg Hohenzollern terletak kurang lebih 65 km di sebelah selatan kota Stuttgart (ibu kota negara bagian Baden-Württemberg), berada di atas gunung Hohenzollern. Mobil-mobil pribadi hanya diperbolehkan parkir di area di kaki gunung. Pengunjung punya dua pilihan untuk menuju kastil. Pertama, dengan shuttle bus (3 euro/orang pulang pergi, atau 1.85 euro per orang sekali jalan). Kedua, dengan berjalan kaki, melalui anak-anak tangga. Waktu itu kami memilih menaiki tangga dibanding naik shuttle bus (ceritanya mau olah raga, karena biasanya saya jarang olah raga), tapi saya tak akan pernah 2 kali melakukan itu (kalau ke sana lagi pun saya pasti memilih untuk naik shuttle bus), karena cape sekali (untuk urusan naik gunung, saya bukan ahlinya), apalagi saya sambil menggendong anak dan tas ransel. Huhhh..
Tapi... walau nafas sudah terengah-engah, hati rasanya senang dan tidak akan sia-sia. Karena kastilnya cantik sekali. Kami langsung membeli tiket masuk + castle tour seharga 10 euro/orang. Setelah melewati loket penjualan tiket, kita akan melewati jalan yang melingkar-lingkar menuju ke atas, kemudian sampailah kita di bagian utama kastil. Bangunannya berwarna kuning keemasan, ditambah hijaunya pepohonan dan birunya langit. Kita bisa mengitari sekeliling kastil sambil melihat pemandangan sekitar, sebelum pergi ke sana dianjurkan untuk melihat ramalan cuaca, pemandangan tentu lebih indah jika cuaca cerah.
Saat membeli tiket sebaiknya kita mencari tahu jam berapa castle tour dimulai, sehingga kita bisa mengatur waktu. Castle tour berlangsung selama kurang lebih 45 menit, di dalam castle kita diwajibkan memakai alas kaki khusus (karena lantai kayu kastil terbuat dari 3 macam jenis kayu yang sangat mahal), dan tidak diperbolehkan mengambil gambar ataupun video. Castle tour tersedia dalam berbagai bahasa, tour guide akan menceritakan sejarah kastil, silsilah keluarga kerajaan dan menjelaskan fungsi setiap ruangan di dalamnya. Mulai dari ruangan depan yang dindingnya penuh dengan lukisan silsilah keluarga, aula yang di bagian atasnya dipenuhi ratusan lilin yang gantung, ruang baca, kamar tidur, dll.
Keterangan dan informasi lainnya tentang Burg Hohenzollern, bisa dilihat di website resmi http://www.burg-hohenzollern.com/startpage.html Bagi pecinta alam, pecinta photography, atau siapapun yang ingin menikmati Burg Hohenzollern dan pemandangan indah di sekitarnya, bisa mengunjungi Raichbergturm (Menara Raichberg) di kota Albstadt (distrik Zollernalbkreis), dari atas menara kita bisa menikmati keindahan alam sekitar, dan jika Anda berjalan dari menara ke arah utara, Anda akan melihat Burg Hohenzollern secara keseluruhan, yang gagah berdiri di atas gunung. Luar biasa indahnya! Anda juga bisa menginap di sebuah penginapan bernama Nägelehaus yang tidak jauh dari Raichbergturm. Untuk keterangan lebih lanjut, bisa lihat di website berikut http://www.naegelehaus.de/ Photos by Muliadi Antaredja

Monday, November 5, 2012

Suasana Abad Pertengahan di Rothenburg ob der Tauber

Tanggal 15 September, kami berkunjung ke kota bernama Rothenburg ob der Tauber (o.d.T). Kota ini terletak di negara bagian Bayern, di tepi sungai Tauber. Dari Heidelberg, perjalanan ditempuh dalam waktu 1.5 jam naik mobil, jika Anda pergi naik kereta, perjalanan akan sedikit lebih lama karena harus beberapa kali transit. Di sebelah stasiun utama (stasiunnya pun kecil, hanya 1 jalur kereta), ada area parkir bebas biaya. Dari tempat parkir, kita hanya membutuhkan 10 menit jalan kaki untuk sampai ke pintu gerbang kota Rothenburg sebelah timur (Rödertor).

Marktplatz Kota ini sangat kecil (sukup satu hari dengan berjalan kaki untuk menjelajahinya), tapi indah. Sekelilingnya dilindungi oleh benteng kota yang bisa kita naiki melalui tangga-tangga, bangunan-bangunan di kota ini dipertahankan keasliannya sehingga kita masih bisa merasakan suasana abad pertengahan. Terlebih jika Anda mengunjungi Criminal Museum yang memamerkan alat-alat hukuman dan penyiksaan bagi pelaku kejahatan di zaman tersebut. Di lapangan utama kota Rothenburg (Marktplatz, Inggris: "Main Square") terdapat satu bangunan yang menarik perhatian wisatawan, yaitu bangunan yang memiliki lonceng, setiap jam lonceng tersebut berdentang, dan jendela-jendelanya terbuka, di dalamnya terlihat boneka-boneka yang bergerak. Di lapangan ini dalam hari-hari dan waktu-waktu tertentu terdapat tenda-tenda penjual makanan/minuman atau sayur dan buah. Jika kita berjalan dari Marktplatz ke arah barat, terdapat sebuah taman besar, dari sana kita bisa menikmati kota Rothenburg dan sungai Tauber sambil duduk-duduk di bawah rindangnya pepohonan.

Jalan di Rothenburg
Makanan khas kota ini adalah Schneeball (yang berarti "bola salju"), terbuat dari adonan pastry yang dibentuk bulat dan ditaburi gula tepung, tersedia juga dalam berbagai rasa seperti cokelat, kopi, mocca dll. Saya sempat mencoba Eierlikör Cake (Advocaat Cake) dan Schwarzwaldkirschtorte (Black Forest Cake) di sebuah cafe bernama Baumeisterhaus (sangat dekat dengan Marktplatz, alamat: Obere Schmiedgasse 3), dan rasanya sangat enak, Baumeisterhaus ini sangat direkomendasikan bagi pecinta cake.

Rothenburg o.d.T
Di kota ini saya menemukan banyak toko yang unik, salah satunya adalah toko bernama Käthe Wolfahrt yang menjual pernak pernik/hiasan natal khas Jerman (http://www.wohlfahrt.com/). Teddyland yang merupakan toko bertema "Beruang Teddy" terbesar di Jerman (http://www.teddyland.de/gesch_e.php). Ishii Sumiko Kunstgewerbe menjual mainan kayu yang unik dan langka (alamat: Wenggasse 2). Dan masih banyak toko lainnya yang menjual souvenir dan barang-barang tradisional. Indahnya kota ini membuat saya ingin kembali lagi ke sana walaupun hanya untuk sekedar duduk di cafe sambil menghabiskan sore hari. (Photos by Muliadi Antaredja)

Friday, May 25, 2012

Lucerne, Kota Indah di Tepi Danau


Chapel Bridge Sudah 8 bulan sejak saya mengunjungi kota Lucerne, sebuah kota cantik di Swiss yang terletak di tepi danau dengan nama yang sama (dalam bahasa Jerman bernama Vierwaldstättersee). Namun hari ini saya baru sempat menuliskan pengalaman saya di kota itu, karena beberapa bulan ini saya sedang sibuk dengan anak pertama saya yang baru berusia 3 bulan (mumpung dia lagi tidur, jadi saya sempatkan sedikit waktu untuk menulis). Walaupun saya terlambat menulis, kecantikan kota Lucern tidak akan berkurang. Waktu itu tanggal 6 Oktober 2011, kami singgah 1 malam di kota Lucern setelah menginap 2 malam di Milan (Italia) dan sebelum kami pulang ke Heidelberg (Jerman). Kami tiba di Stasiun Kereta Utama Lucerne sore hari. Kami ingin langsung menuju hotel untuk menaruh barang bawaan kami dan untuk mandi, karena kami sangat kelelahan, kereta yang kami naiki mengalami sedikit kekacauan sehingga sebelumnya kami harus turun naik ganti kereta (mengingat saya yang saat itu sedang hamil 5 bulan). Seingat kami, hotel kami ada di sekitar stasiun.

Bebek Panggang dan Mie
Keluar dari stasiun kami berjalan ke timur, kebetulan hari itu ada bazar malam di sekitarnya. Kami berjalan menyusuri Jalan Inseliquai dan tidak sengaja melewati sebuah toko Asia kecil bernama Kam Tong yang di dalamnya ada meja-meja makan kecil. Kami masuk dan bertanya pada si pemilik toko, di mana letak hotel kami. Ternyata hotel kami letaknya persis di belakang stasiun. Dan si pemilik toko (suami istri asal Hongkong) mengatakan bahwa hari ini mereka membuat bebek panggang ala Hongkong dan menawarkan apakah kami mau makan malam di sana. Mendengar hal itu, kami yang sangat rindu masakan Asia tentu saja tidak menolak. Tapi kami tetap ingin menaruh barang di hotel terlebih dahulu, dan kami berjanji akan segera kembali untuk makan. Akhirnya kami menemukan hotel Etap, setelah menaruh barang dan mandi, kami berjalan kembali ke Inseliquai. Makan malam yang luar biasa nikmatnya! Bebek panggang yang disajikan dengan mie. Selesai makan kami berjalan di sekitar sana kemudian beristirahat kembali.

Night view with St. Leodegar Church
Keesokan harinya, dimulailah perjalan kami di kota itu. Kami mengelilingi kota itu dengan berjalan kaki. Kami berjalan ke arah barat melewati Chapel Bridge (dalam bhs Jerman : Kapellbrücke) sebuah jembatan kayu yang menyebrangi Sungai Reuss yang juga terdapat Water Tower (Wasserturm) di tengahnya. Kami terus berjalan ke barat melewati benteng kota di atas bukit, kemudian turun ke daerah Old Town (Altstadt) yang merupakan pusat perbelanjaan dan pemandangan bangunan kuno. Kemudian kami menyusuri Altstadt menuju ke arah timur dan sampailah kami ke tepi danau Lucern. Kami menyempatkan diri untuk naik kapal mengelilingi sebagian kecil danau selama 1 jam. Harga tiket kapal 16 Franc per orang. Saat mengelilingi danau, kita bisa menyaksikan pemandangan yang indah baik pemandangan kota Lucern ataupun pemandangan gunung yang mengelilingi danau, termasuk Mount Pilatus yang hampir selalu terselimuti salju. Sayang sekali kami tidak punya cukup waktu untuk naik ke gunung tersebut. Anda bisa naik kereta gunung (Bergbahn) untuk naik ke sana.

Lion Monument Setelah itu kami berjalan menuju ke utara untuk melihat Lion Monument (Löwendenkmal) yang dibuat untuk memperingati para pengawal yang gugur saat Revolusi Perancis di abad ke-18. Sebelum pulang, kami mampir ke sebuah gereja yang merupakan ciri khas kota Lucerne dengan dua menara kerucut, yaitu Gereja St. Leodegar.

Wednesday, November 16, 2011

Mengintip Lukisan Da Vinci di Kota Mode Milan





Santa Maria delle Grazie

Siapa yang tak kenal kota Milan di Italia, salah satu kota modern pusat Mode dunia yang juga menyimpan banyak sejarah. Tanggal 4 Oktober yang lalu kami berada di Milan. Kami bermalam di sebuah hotel di salah satu jalan bernama Via Giovanni Battista Firelli di seberang Stasiun Utama, cukup praktis karena dekat dengan stasiun subway.

Salah satu atraksi turis yang terkenal di kota ini adalah melihat lukisan karya Leonardo Da Vinci "The Last Supper" atau "Ultima Cena" dalam bahasa Italia. Sebelum kami tiba di Milan, banyak teman kami yang mengatakan bahwa pengujung yang ingin melihat lukisan itu harus membeli tiket terlebih dahulu beberapa hari sebelumnya via internet, karena pengunjung-pengunjung akan dibagi menjadi kelompok-kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 15-20 orang, dan hanya diperbolehkan menikmati lukisan tersebut selama maksimum 15 menit. Kami tidak membeli tiket terlebih dahulu, karena kami tidak begitu yakin dengan situs-situs penjual tiket alias takut tertipu. Harga tiket Last Supper yang dijual melalui internet adalah 60 euro per orang (menurut kami sangat mahal dan not worth it, harga tiket masuk Musee' de Louvre Paris yang berukuran sangat besar dan menyajikan lukisan asli Monalisa saja tidak sampai 20 euro per orang), dan si penjual adalah para tour agent. Jadi kami berpikiran, "ah sudah coba saja beli langsung, kalau dapet yah sukur, kalo ga ya sudah!".




Cathedral of Duomo

Pagi hari pukul 07.30 kami langsung berangkat naik subway sampai ke Santa Maria delle Grazie (subway station : Conciliazione) yang merupakan salah satu gereja Katolik Roma yang tidak begitu besar tapi selalu ramai dikunjungi orang karena di dalamnya terletak lukisan asli Da Vinci "The Last Supper". Begitu sampai di sana, kami langsung ke loket penjualan tiket. Wow! Kami sangat beruntung, hanya ada 2 tiket tersisa untuk hari itu yaitu pukul 15.45! Dan tiketnya hanya berharga 6 euro per orang, 10x lebih murah daripada tiket yang dijual oleh travel agent melalui internet. Setelah membeli tiket, masuk ke dalam gereja, kemudian langsung menuju stasiun subway untuk mengunjungi tempat berikutnya.

Tempat berikutnya adalah Cathedral of Milan (subway station: Duomo) atau lebih dikenal dengan nama Cathedral Duomo. Merupakan gereja besar yang bentuknya sangat indah, terletak di pusat kota Milan. Di seberang gereja ini terletak sebuah pusat perbelanjaan terkenal yang bernama Galleria Vittorio Emanuele II. Nama ini diambil dari salah seorang raja di Italia. Bangunan Galleria Vittorio sangat unik karena merupakan bangunan kuno yang mempunyai kubah yang indah. Galleria ini sudah ada dan terkenal sejak zaman dahulu. Sekarang ini, Galleria Vittorio diisi dengan toko-toko bermerek seperti Louis Vuitton, Prada, Gucci dll.




Galleria Vittorio Emanuele II

Setelah selesai windows shopping, kami menuju stadion sepak bola San Siro (subway station: Lotto Fiera, kemudian harus berjalan kaki selama 30 menit), stadion terkenal dari klub sepak bola AC Milan dan Intermilan. Kami membeli tiket untuk San Siro Tour and Museum seharga 12.50 euro per orang. Lucunya, museum hanya berupa sebuah ruangan yang cukup besar dan dibagi dua bagian, sebelah kanan untuk Intermilan (biru) dan sebelah kiri untuk AC Milan (merah). Kami pun masuk ke dalam stadion dan juga ke kamar ganti pakaian para pemain. Kamar ganti pun ada dua, satu untuk AC dan satunya untuk Inter.




San Siro Stadion

Sore hari kami kembali ke gereja Santa Maria delle Grazie. Pada pukul 15.45 kami bersama rombongan tour dari Jepang masuk ke dalam ruangan di mana lukisan Da Vinci berada. Sebelum masuk, kami harus melewati beberapa lapis pintu kaca. Lukisan The Last Supper merupakan sebuah lukisan besar di dinding gereja (berada di sayap sebelah barat gereja tersebut). Lukisannya sangat hidup dan mengagumkan. Lukisan ini telah mengalami beberapa kali perbaikan warna tanpa mengurangi struktur aslinya. Di dalam lukisan itu digambarkan bahwa Yesus sedang mengadakan perjamuan (terakhir) bersama keduabelas muridnya, dan ke dalam lukisan itu. Da Vinci menggambarkan ekspresi dan reaksi para murid ketika Yesus berkata "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kami akan menyerahkan Aku" (Matius 26:21). Urutan dalam lukisan (dari kiri ke kanan): Batholomeus, Yakobus anak Elfeus, Andreas, Yudas Iskariot, Petrus, Yohanes, Yesus, Thomas, Filipus, Yakobus, Matius, Thadeus, dan Simon Zelot.

Setelah lelah berjalan seharian di bawah panasnya matahari, kami beristirahat sambil menikmati makan malam di sebuah restaurant yang letaknya tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Photos by Muliadi Antaredja