Wednesday, May 11, 2011

Hangatnya Sang Surya di Heidelberg





Tepi Sungai Neckar

“Ach Sonne! Ich liebe Sonne!”
(Ah Matahari! Saya cinta matahari!)
Itu perkataan yang sering saya dengar dari orang-orang Jerman dalam dua bulan ini Setelah mengalami musim dingin (dengan suhu terpanas biasanya hanya di bawah 5 derajat Celcius, dan suhu terdingin mencapai minus 15 derajat Celcius) dari bulan November sampai Februari, orang-orang mengharapkan datangnya kehangatan di musim semi dan musim panas. Di musim dingin, aktivitas di luar rumah otomatis berkurang, mereka hanya bisa bermain ski atau ice skating. Di musim semi dan musim panas, orang-orang lebih banyak beraktivitas di luar rumah, berkebun, bersepeda, berenang, berjemur, bersepatu roda, memanjat tebing, lintas alam, dan tentunya barbecue (memanggang daging). Di musim dingin, brosur-brosur toko dan supermarket berisi seputar peralatan ski, jaket, topi dan kaus kaki tebal. Di musim ini, brosur-brosur terisi dengan gambar-gambar sandal jepit, pakaian renang, kaos oblong dll. Jumlah orang di tempat umum pun meningkat sangat drastis di musim yang terselimuti kehangatan ini.

Ini pun pertama kalinya saya mengalami musim semi di Jerman. Saya pribadi pun kurang menyukai musim dingin, karena saya merasa waktu saya habis hanya untuk memakai baju musim dingin serta perlengkapan lainnya (long john, syal, sarung tangan, sepatu boot). Karena itu, saya pun akan selalu mengucapkan kedua kalimat pertama di atas saat musim panas tiba (hehehe).




Barbecue time

Setiap hari saya pergi kursus bahasa dengan bersepeda dan selalu melewati sungai Neckar di kota Heidelberg. Saya amati, setiap hari semakin banyak saja orang-orang berjemur dengan pakaian yang sangat minim dan kacamata hitam di tepi sungai itu, sambil menggelar kain, membaca buku ataupun sambil barbecue. Suasana ini menarik perhatian saya, karena sangat berbeda dengan keadaan di Indonesia, dimana wanita-wanita pada umumnya mengeluarkan payung saat panas terik. Saya pun ingin "ikut-ikutan" alias ingin juga merasakan suasana dan mengenal lebih jauh kebudayaan setempat.




Chicken Wing

Akhirnya saya pun mengajak beberapa teman untuk kumpul di hari Sabtu sore, dengan membawa alat barbecue sekali pakai dan daging atau sayur mentah. Hari itu sangat terik, padang rumput di tepi sungai bagaikan lautan manusia (hampir tak terlihat lagi warna hijaunya). Kami pun akhirnya menemukan tempat di area Grillzone (tidak di semua bagian tepi sungai boleh dipakai untuk barbecue). Kami pun mulai membakar, sambil lirik kiri kanan (Untuk yang jomblo boleh juga tuh kali-kali goleran di sana :p). Ternyata, unik sekali orang-orang yang ada di sana, para wanita kebanyakan mengenakan bikini, para pria bertelanjang dada. Ada yang membawa radio, binatang peliharaan, sampai membawa bir beberapa krat. Mereka mandi matahari, berdansa, makan, minum, membaca, mengobrol, tertawa. Semua orang menikmati musim yang selalu dirindukan ini.

Ah! Hangatnya Sang Surya!

0 comments: