Tuesday, November 6, 2012

Burg Hohenzollern, Kastil Megah Di Atas Gunung

Hadiah ulang tahun kali ini sangat berkesan, suami mengajakku mengunjungi sebuah kastil indah, Burg Hohenzollern (Hohenzollern Castle), tempat tinggal keluarga Hohenzollern yang menguasai kerajaan Prussia di abad pertengahan. Pewaris tahta kerajaan Prussia saat ini adalah Pangeran George Friedrich, istrinya adalah Puteri Sophie. Tanggal 2 Oktober pagi hari kami berangkat dari Heidelberg, naik mobil langsung menuju ke sana. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam. Burg Hohenzollern terletak kurang lebih 65 km di sebelah selatan kota Stuttgart (ibu kota negara bagian Baden-Württemberg), berada di atas gunung Hohenzollern. Mobil-mobil pribadi hanya diperbolehkan parkir di area di kaki gunung. Pengunjung punya dua pilihan untuk menuju kastil. Pertama, dengan shuttle bus (3 euro/orang pulang pergi, atau 1.85 euro per orang sekali jalan). Kedua, dengan berjalan kaki, melalui anak-anak tangga. Waktu itu kami memilih menaiki tangga dibanding naik shuttle bus (ceritanya mau olah raga, karena biasanya saya jarang olah raga), tapi saya tak akan pernah 2 kali melakukan itu (kalau ke sana lagi pun saya pasti memilih untuk naik shuttle bus), karena cape sekali (untuk urusan naik gunung, saya bukan ahlinya), apalagi saya sambil menggendong anak dan tas ransel. Huhhh..
Tapi... walau nafas sudah terengah-engah, hati rasanya senang dan tidak akan sia-sia. Karena kastilnya cantik sekali. Kami langsung membeli tiket masuk + castle tour seharga 10 euro/orang. Setelah melewati loket penjualan tiket, kita akan melewati jalan yang melingkar-lingkar menuju ke atas, kemudian sampailah kita di bagian utama kastil. Bangunannya berwarna kuning keemasan, ditambah hijaunya pepohonan dan birunya langit. Kita bisa mengitari sekeliling kastil sambil melihat pemandangan sekitar, sebelum pergi ke sana dianjurkan untuk melihat ramalan cuaca, pemandangan tentu lebih indah jika cuaca cerah.
Saat membeli tiket sebaiknya kita mencari tahu jam berapa castle tour dimulai, sehingga kita bisa mengatur waktu. Castle tour berlangsung selama kurang lebih 45 menit, di dalam castle kita diwajibkan memakai alas kaki khusus (karena lantai kayu kastil terbuat dari 3 macam jenis kayu yang sangat mahal), dan tidak diperbolehkan mengambil gambar ataupun video. Castle tour tersedia dalam berbagai bahasa, tour guide akan menceritakan sejarah kastil, silsilah keluarga kerajaan dan menjelaskan fungsi setiap ruangan di dalamnya. Mulai dari ruangan depan yang dindingnya penuh dengan lukisan silsilah keluarga, aula yang di bagian atasnya dipenuhi ratusan lilin yang gantung, ruang baca, kamar tidur, dll.
Keterangan dan informasi lainnya tentang Burg Hohenzollern, bisa dilihat di website resmi http://www.burg-hohenzollern.com/startpage.html Bagi pecinta alam, pecinta photography, atau siapapun yang ingin menikmati Burg Hohenzollern dan pemandangan indah di sekitarnya, bisa mengunjungi Raichbergturm (Menara Raichberg) di kota Albstadt (distrik Zollernalbkreis), dari atas menara kita bisa menikmati keindahan alam sekitar, dan jika Anda berjalan dari menara ke arah utara, Anda akan melihat Burg Hohenzollern secara keseluruhan, yang gagah berdiri di atas gunung. Luar biasa indahnya! Anda juga bisa menginap di sebuah penginapan bernama Nägelehaus yang tidak jauh dari Raichbergturm. Untuk keterangan lebih lanjut, bisa lihat di website berikut http://www.naegelehaus.de/ Photos by Muliadi Antaredja

Monday, November 5, 2012

Suasana Abad Pertengahan di Rothenburg ob der Tauber

Tanggal 15 September, kami berkunjung ke kota bernama Rothenburg ob der Tauber (o.d.T). Kota ini terletak di negara bagian Bayern, di tepi sungai Tauber. Dari Heidelberg, perjalanan ditempuh dalam waktu 1.5 jam naik mobil, jika Anda pergi naik kereta, perjalanan akan sedikit lebih lama karena harus beberapa kali transit. Di sebelah stasiun utama (stasiunnya pun kecil, hanya 1 jalur kereta), ada area parkir bebas biaya. Dari tempat parkir, kita hanya membutuhkan 10 menit jalan kaki untuk sampai ke pintu gerbang kota Rothenburg sebelah timur (Rödertor).

Marktplatz Kota ini sangat kecil (sukup satu hari dengan berjalan kaki untuk menjelajahinya), tapi indah. Sekelilingnya dilindungi oleh benteng kota yang bisa kita naiki melalui tangga-tangga, bangunan-bangunan di kota ini dipertahankan keasliannya sehingga kita masih bisa merasakan suasana abad pertengahan. Terlebih jika Anda mengunjungi Criminal Museum yang memamerkan alat-alat hukuman dan penyiksaan bagi pelaku kejahatan di zaman tersebut. Di lapangan utama kota Rothenburg (Marktplatz, Inggris: "Main Square") terdapat satu bangunan yang menarik perhatian wisatawan, yaitu bangunan yang memiliki lonceng, setiap jam lonceng tersebut berdentang, dan jendela-jendelanya terbuka, di dalamnya terlihat boneka-boneka yang bergerak. Di lapangan ini dalam hari-hari dan waktu-waktu tertentu terdapat tenda-tenda penjual makanan/minuman atau sayur dan buah. Jika kita berjalan dari Marktplatz ke arah barat, terdapat sebuah taman besar, dari sana kita bisa menikmati kota Rothenburg dan sungai Tauber sambil duduk-duduk di bawah rindangnya pepohonan.

Jalan di Rothenburg
Makanan khas kota ini adalah Schneeball (yang berarti "bola salju"), terbuat dari adonan pastry yang dibentuk bulat dan ditaburi gula tepung, tersedia juga dalam berbagai rasa seperti cokelat, kopi, mocca dll. Saya sempat mencoba Eierlikör Cake (Advocaat Cake) dan Schwarzwaldkirschtorte (Black Forest Cake) di sebuah cafe bernama Baumeisterhaus (sangat dekat dengan Marktplatz, alamat: Obere Schmiedgasse 3), dan rasanya sangat enak, Baumeisterhaus ini sangat direkomendasikan bagi pecinta cake.

Rothenburg o.d.T
Di kota ini saya menemukan banyak toko yang unik, salah satunya adalah toko bernama Käthe Wolfahrt yang menjual pernak pernik/hiasan natal khas Jerman (http://www.wohlfahrt.com/). Teddyland yang merupakan toko bertema "Beruang Teddy" terbesar di Jerman (http://www.teddyland.de/gesch_e.php). Ishii Sumiko Kunstgewerbe menjual mainan kayu yang unik dan langka (alamat: Wenggasse 2). Dan masih banyak toko lainnya yang menjual souvenir dan barang-barang tradisional. Indahnya kota ini membuat saya ingin kembali lagi ke sana walaupun hanya untuk sekedar duduk di cafe sambil menghabiskan sore hari. (Photos by Muliadi Antaredja)

Friday, May 25, 2012

Lucerne, Kota Indah di Tepi Danau


Chapel Bridge Sudah 8 bulan sejak saya mengunjungi kota Lucerne, sebuah kota cantik di Swiss yang terletak di tepi danau dengan nama yang sama (dalam bahasa Jerman bernama Vierwaldstättersee). Namun hari ini saya baru sempat menuliskan pengalaman saya di kota itu, karena beberapa bulan ini saya sedang sibuk dengan anak pertama saya yang baru berusia 3 bulan (mumpung dia lagi tidur, jadi saya sempatkan sedikit waktu untuk menulis). Walaupun saya terlambat menulis, kecantikan kota Lucern tidak akan berkurang. Waktu itu tanggal 6 Oktober 2011, kami singgah 1 malam di kota Lucern setelah menginap 2 malam di Milan (Italia) dan sebelum kami pulang ke Heidelberg (Jerman). Kami tiba di Stasiun Kereta Utama Lucerne sore hari. Kami ingin langsung menuju hotel untuk menaruh barang bawaan kami dan untuk mandi, karena kami sangat kelelahan, kereta yang kami naiki mengalami sedikit kekacauan sehingga sebelumnya kami harus turun naik ganti kereta (mengingat saya yang saat itu sedang hamil 5 bulan). Seingat kami, hotel kami ada di sekitar stasiun.

Bebek Panggang dan Mie
Keluar dari stasiun kami berjalan ke timur, kebetulan hari itu ada bazar malam di sekitarnya. Kami berjalan menyusuri Jalan Inseliquai dan tidak sengaja melewati sebuah toko Asia kecil bernama Kam Tong yang di dalamnya ada meja-meja makan kecil. Kami masuk dan bertanya pada si pemilik toko, di mana letak hotel kami. Ternyata hotel kami letaknya persis di belakang stasiun. Dan si pemilik toko (suami istri asal Hongkong) mengatakan bahwa hari ini mereka membuat bebek panggang ala Hongkong dan menawarkan apakah kami mau makan malam di sana. Mendengar hal itu, kami yang sangat rindu masakan Asia tentu saja tidak menolak. Tapi kami tetap ingin menaruh barang di hotel terlebih dahulu, dan kami berjanji akan segera kembali untuk makan. Akhirnya kami menemukan hotel Etap, setelah menaruh barang dan mandi, kami berjalan kembali ke Inseliquai. Makan malam yang luar biasa nikmatnya! Bebek panggang yang disajikan dengan mie. Selesai makan kami berjalan di sekitar sana kemudian beristirahat kembali.

Night view with St. Leodegar Church
Keesokan harinya, dimulailah perjalan kami di kota itu. Kami mengelilingi kota itu dengan berjalan kaki. Kami berjalan ke arah barat melewati Chapel Bridge (dalam bhs Jerman : Kapellbrücke) sebuah jembatan kayu yang menyebrangi Sungai Reuss yang juga terdapat Water Tower (Wasserturm) di tengahnya. Kami terus berjalan ke barat melewati benteng kota di atas bukit, kemudian turun ke daerah Old Town (Altstadt) yang merupakan pusat perbelanjaan dan pemandangan bangunan kuno. Kemudian kami menyusuri Altstadt menuju ke arah timur dan sampailah kami ke tepi danau Lucern. Kami menyempatkan diri untuk naik kapal mengelilingi sebagian kecil danau selama 1 jam. Harga tiket kapal 16 Franc per orang. Saat mengelilingi danau, kita bisa menyaksikan pemandangan yang indah baik pemandangan kota Lucern ataupun pemandangan gunung yang mengelilingi danau, termasuk Mount Pilatus yang hampir selalu terselimuti salju. Sayang sekali kami tidak punya cukup waktu untuk naik ke gunung tersebut. Anda bisa naik kereta gunung (Bergbahn) untuk naik ke sana.

Lion Monument Setelah itu kami berjalan menuju ke utara untuk melihat Lion Monument (Löwendenkmal) yang dibuat untuk memperingati para pengawal yang gugur saat Revolusi Perancis di abad ke-18. Sebelum pulang, kami mampir ke sebuah gereja yang merupakan ciri khas kota Lucerne dengan dua menara kerucut, yaitu Gereja St. Leodegar.