
Grand Canal
Awal bulan Oktober ini, saya ada kesempatan untuk jalan-jalan lagi, karena kebetulan suami lagi cuti untuk satu minggu dan butuh refreshing, dan saya yang sedang hamil 5 bulan juga dianjurkan untuk mulai banyak jalan oleh dokter.
Tanggal 1 Oktober pukul 21.05 kami berangkat dari stasiun kota München (Munich) naik City Night Line (kereta malam) menuju Venezia. Perjalanan membutuhkan waktu 9 jam. Sayangnya kami agak terlambat membeli tiket, awalnya kami ingin membeli tiket untuk Schlafwagen (gerbong dengan tempat tidur) biar bisa istirahat dan besoknya biar lebih fit jalan-jalannya. Tapi tiket sudah terjual habis (karena memang Schlafwagen hanya ada satu gerbong), jadi terpaksa kita membeli tiket kereta duduk biasa. Kita pikir 9 jam tidak terlalu masalah, karena sebelumnya kami pernah duduk selama 17 jam menuju Roma. Tapi ternyata 2 penumpang di sebelah kita yang tidak tidur sangat bising, dan alhasil kita pun tidak bisa tidur sampe kereta tiba di stasiun Venezia Santa Lucia pukul 06.30.
Piazza San Marco
Sesampai di Venezia, hari masih agak gelap, badan pegal dan ngantuk, tapi begitu keluar dari stasiun, kami langsung melihat sebuah kubah dan bangunan-bangunan khas yang dikelilingi air, indah sekali! Kami pun berniat langsung menuju ke hotel kami untuk menaruh koper. Kami belum punya peta kota, cuma berbekal alamat hotel dan sedikit ingatan akan arah jalan dari stasiun menuju hotel. Kami jalan terus seakan-akan hafal jalan, orang-orang pun belum berkeliaran, karena masih pagi. Kami berjalan terus, naik turun jembatan (karena Venezia merupakan kota air yang terdiri dari banyak kanal) sambil membawa tas dan koper, lapar pula (untung masih punya 2 muffin walaupun muffinnya sudah jadi bubuk). Setelah banyak orang bermunculan di jalan, kami mulai mencoba bertanya tentang di mana hotel kami itu terletak. Setiap orang memberikan jawaban yang berbeda, karena mungkin mereka memang tidak mengenal nama jalan (gang) itu. Namanya Calle della Misericordia, dan ada beberapa jalan lain yang mengandung kata "misericordia". Setelah 3 jam kita "tersesat", akhirnya kita menemukan sebuah toko koran dan langsunglah kita membeli sebuah peta. Dalam beberapa detik kita langsung menemukan gang Calle della Misericordia di peta tersebut, dan ternyata letaknya hanya sekitar 500 meter dari stasiun. Itu memang sebuah gang sempit, dan mungkin banyak orang tidak mengenalnya walaupun di gang tersebut ada beberapa hotel bintang 3.
Gondola
Setelah kami taruh barang di hotel (karena saat kami sampai di hotel masih pukul 10 pagi, kami masih belum bisa check in), kami langsung menuju stasiun bus air untuk membeli tiket. Pusat kota Venezia merupakan sebuah pulau yang dikelilingi air, jadi di sana tidak ada mobil atau bus (Mobil dan bus hanya terdapat di Venezia Mestre, P.le Roma dan Lido). Masyarakat lokal memanfaatkan alat transportasi air seperti bus air (seperti ferry tapi lebih kecil) yang terbagi menjadi banyak line (jurusan), taksi air, gondola, perahu pribadi, dll. Tiket untuk bus air tersedia pula dalam berbagai jenis: tiket sekali jalan (kalau tidak salah harganya 6.50 euro), tiket 12 jam, 24 jam, 48 jam, 72 jam, dan tiket satu minggu. Kami membeli tiket 24 jam seharga 18 euro/tiket. 
Water Taxi
Kami baik water bus dari stasiun Ferrovia (di depan St. Lucia Railway Station) menuju San Marco (Saint Mark Square), melalui Grand Canal. Dalam perjalanan di atas air, kami melihat pemandangan bangunan-bangunan khas Venezia yang sangat indah. (Kalau Anda pernah main Assasin's Creed II yang berlatar belakang kota Venezia, pasti Anda langsung mengatakan "sangat mirip!"). Di Piazza San Marco berdiri Basilica San Marco yang indah. Sayangnya saat kami di sana, antrian masuk ke dalam basilica sangat panjang, jadi daripada menghabiskan waktu mengantri, kami pun hanya melihat dari luar (lagipula waktu itu sedang dalam renovasi). Di sekitar sana pun terdapat toko-toko kecil, dan juga toko-toko bermerek seperti Prada, Gucci, dll. Di canal-canal sekitar pun banyak gondola yang sedang menarik penumpang. Kami tidak naik gondola karena penuh dan cukup mahal tarifnya (80 euro per orang/30 menit). 
Murano Handmade Glass
Setelah mengelilingi area San Marco, kami naik water bus kembali ke hotel untuk mandi dan beristirahat (dari semalam di kereta belum mandi dan tidak bisa tidur, ditambah hari itu panas terik, jadi lemes deh). Sore hari sekitar jam 5 kami keluar hotel menuju Rialto untuk makan malam. Di tepi sepanjang canal terdapat banyak restaurant, kita bisa duduk di pinggir canal sambil menikmati indahnya kota Venezia di malam hari dan nyanyian para tukang gondola yang merdu. Untuk makan malam, kami memesan Spaghetti Bolognese dan Spaghetti with Clams sebagai makanan pertama. Scallop dan Calamari sebagai makanan kedua. Kentang bakar dan Salad sebagai makanan ketiga. Orang-orang Italy punya beberapa menu saat mereka makan, dan setiap menu punya porsi yang tidak terlalu banyak. Maka itu, di menu setiap restaurant terdapat Appetizer (salad atau kentang), Main Course 1 (Pasta), Main Course 2 (Steak), Dessert, Beverages.
Murano Glass Souvenir
Keesokan harinya sehabis sarapan, kami langsung menuju Pulau Murano dengan naik water bus selama kurang lebih 30 menit. Murano terkenal dengan pembuatan kerajinan kacanya (Murano Glass). Setiba di sana, kami langsung menuju pabrik tertua pembuat kerajinan kaca. Di sana kita bisa menyaksikan demo pembuatan kerajinan kaca secara langsung selama kurang lebih 15 menit dengan biaya 3 euro/orang. Demo ini patut disaksikan karena unik dan indah sekali, setelah itu kita pun bisa membeli barang-barang kerajinan tersebut (memang harganya cukup mahal dibandingkan dengan toko-toko lain). Kami berjalan kaki mengelilingi pulau Murano, sepanjang jalan di tepi canal terdapat banyak toko-toko kerajinan kaca, dari pernak-pernik kecil seperti anting, sampai guci berukuran besar. Setelah puas mengelilingi Murano, kami kembali naik water bus menuju hotel untuk mengambil barang bawaan kami, dan kemudian membeli tiket kereta tujuan Milan.
Photos by Muliadi Antaredja
Monday, October 31, 2011
Kota Air Venezia
Labels: Europe Series
Posted by Veronica Vania at 12:44 PM 0 comments
Sunday, October 30, 2011
Oktoberfest, Festival Terbesar Di Dunia

Patung Theresia
Oktoberfest yang berarti "festival bulan Oktober" itu merupakan festival terbesar di dunia dengan pengunjung terbanyak setiap tahunnya. Festival ini diadakan di sebuah lapangan luas bernama Theresienwiese di kota Munich (München), Bayern, Jerman, selama kurang lebih dua minggu di akhir bulan September sampai awal bulan Oktober. Sejarah Oktoberfest ini ternyata berasal dari abad ke-19, zaman Raja Ludwig I dari Bayern. Di pesta pernikahannya dengan seorang putri bernama Theresia, beliau mengundang seluruh rakyat dan menjamu mereka dengan berbagai jenis makanan dan minuman (termasuk bir). Oktoberfest identik dengan 2 hal, yaitu bir dan Lederhose/Drindl (pakaian khas Bayern). Maka itu, kebanyakan orang pergi ke Oktoberfest dengan memakai Lederhose/Drindl untuk minum bir.
Lederhose dan Drindl
Saya berangkat naik kereta dari Heidelberg menuju Munich tanggal 1 Oktober kemarin. Biasanya jika kami naik kereta antar kota di dalam Jerman, kami tidak pernah memesan tempat duduk terlebih dahulu. Kami pun tidak berpikiran kalau selama Oktoberfest berlangsung, kereta tujuan Munich penuh dengan penumpang. Alhasil, penumpang berjubal dan kami pun tidak kebagian tempat duduk, banyak penumpang yang duduk di lorong antar gerbong atau berdiri di depan toilet kereta. Kami pun duduk di lantai persis di depan pintu kereta. Perjalanan 3 jam akhirnya berlalu juga, kami pun sampai di Munich. Di Stasiun sudah terlihat banyak orang memakai Lederhose dan membawa botol bir sambil mulai bernyanyi-nyanyi. Kami berjalan kaki dari stasiun menuju Theresienwiese, karena letaknya tidak begitu jauh. Sesampai di sana terlihat banyak tenda penjual makanan khas seperti sosis bakar, ikan bakar, babi guling dll. 
Penyaji bir
Selain itu juga banyak tenda-tenda besar tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin minum bir bersama-sama sambil makan, menyaksikan live musik khas Oktoberfest dan berdansa. Setiap tenda menyajikan bir-nya masing-masing. Contohnya, tenda Paulaner, Löwenbrau, Hofbräu, dll, dan bila kita ingin masuk ke dalam tenda, kita harus memesan tempat alias reservasi terlebih dahulu karena semua tempat akan penuh terisi oleh pengunjung. Di dalam tenda disajikan bir di dalam gelas 1 Liter, konon katanya bir yang disajikan di Oktoberfest memiliki kadar alkohol yang lebih tinggi dibanding dengan bir botolan yang dijual di supermarket. Maka itu tidak aneh jiga selama Oktoberfest berlangsung, banyak ditemukan orang-orang yang berbaring di pinggir jalan karena mabuk. Uniknya, pelayan pembawa gelas-gelas bir besar di Oktoberfest adalah kebanyakan wanita-wanita yang mampu membawa sekaligus 10 gelas yang terisi penuh. 
Suasana di sebuah tenda
Para pengunjung pun bisa menikmati wahana-wahana bermain seperti rollercoaster, kincir raksasa, rumah hantu, dll ataupun bermain game berhadiah seperti lempar kaleng, menembak, memanah dll.
Photos by Muliadi Antaredja
Labels: Europe Series
Posted by Veronica Vania at 8:59 AM 0 comments
